PSIKOLOGI UMUM
A. PENDAHULUAN
Dunia modrn
dewasa ini, tidak bisa luput dari pengetahuan tentang psikogi. Dahulu dunia
ini hanya berkompetisi lewat otot dan kemampuan untuk bertahan dari ganasnya
lingkungan, dan itu hanya berupa kemampuan untuk bertahan dari gangguan binatang
buas dan kemampuan untuk bertahan dari kelaparan. Penyakit yang muncul pada
saat itu, orang cenderung hanya pada penyakit fisik saja. Beranjak dari itu,
era pun berubah, masuk lah pada era yang pada abad dua puluh orang menyebutnya
dengan era teknologi informasi. Pada era ini manusia sudah mulai dihadapkan
pada masa, di mana tantangan hidup tidak hanya berupa perjuangan fisik, tetapi
juga menuntut kemampuan pertahanan psikis, sehingga memunculkan banyak penyakit
yang tidak diketahui penyebabnya. Dan belakangan di ketahui penyakit yang
muncul adalah akibat terganggunya kesehatan psikis sehingga menimbulkan
penyakit fisik (psikosomatik).
Dan waktu pun
terus berputar, meninggalkan masa-masa dahulu dan pengetahuan pun berlalu dan
semakin berkembang. Era pun berganti nama, jika sebelumnya ada yang mengatakan
era globalisasi dan teknologi informasi, maka dewasa ini pemahaman itu sudah
ditinggalkan. Kecenderungan orang sekarang menyebut masa sekarang adalah era
konsep. Sehingga jika dahulu orang yang mampu bertahan dan menang melawan hidup
adalah orang yang menguasai dunia teknologi informasi maka dia lah yang akan
menjadi pemenang. Namun pemahaman itu sudah ditinggalkan. Karena orang yang
menguasai teknologi pun banyak yang lalai dan terjatuh, Akibat penyalahgunaan
teknologi informasi yang tidak bijak. Sehingga orang, dewasa ini menyebut era
sekarang adalah era konsep. Maksudnya siapa yang mempunyai konsep yang jelas
dan memahami berbagai konsep yang ada maka dia lah yang akan suvive, dan menang
melawan tantangan hidup yang kian garang ini.
Beralih dari itu,
ketat dan sengitnya persaingan hidup, mengakibatkan banyak perobahan. Dan
akibat lainnya adalah munculnya banyak penyakit baik penyakit pisik maupun
penyakit psikis, sehingga banyak juga memunculkan disiplin ilmu dan pengobatan
yang bersifat psikis. Seperti psiko klinis, kesehatan mental, psikoterapi,
konseling, dan masih banyak lagi. Dan satu hal yang tidak bisa dihindarkan
adalah bahwa jika ingin menguasai ilmu tersebut, gerbang utama yang harus
dilalui adalah menguasai pengantar psikologi atau psikologi umum.
DAFTAR ISI
A. PENDAHULUAN_ 1
DAFTAR ISI_2
B.
PENGERTIAN
PSIKOLOGI_ 3
1.
Aliran
Psikologi_ 4
2.
Metode
Psikologi_ 19
3.
Teori
Psikologi_ 22
C.
PRILAKU
MANUSIA_ 25
D.
MANUSI
dan LINGKUNGAN_ 29
1.
Pengertian manusia _ 29
2.
Pengertian lingkungan_ 29
3.
Manusia
dan Perkembangan_ 30
4.
Faktor
Endogen ( dalam diri) dan eksogen (Lingkungan) _ 34
E.
PERSEPSI_ 34
F.
PERHATIAN,
PENGAMATAN DAN INGATAN_ 37
G.
BELAJAR_ 40
H.
BERFIKIR_ 41
I.
INTELEGENSI_ 41
J.
PERASAAAN
DAN EMOSI_ 44
K.
MOTIVASI_ 45
L.
SIKAP_ 48
DAFTAR
KEPUSTAKAAN_ 50
B.
PENGERTIAN
PSIKOLOGI
Menurut asal katanya psikologi
bersal dari bahasa yunani, yakni dari kata psyche yang berarti jiwadan logos yang berarti ilmu. Jadi secara harfiah
psikologi berarti ilmu jiwa.
Namun arti “ ilmu jiwa” menimbulkan
pemahaman yang sangat kabur karena objek dari ilmu jiwa tersebut tidak ril.
Sangat kabur dan tidak bisa diteliti secara empiris. Karena jiwa adalah unsur
yang berada dalam diri manusia yang wujudnya tidak bisa di pegang, di raba dan
dilihat, hanya bisa di rasakan keberadaannya. Karena jiwa begitu kabur maka
banyak menimbulkan pemahaman dan pengartian di kalangan pakar psikologi.
Ada banyak ahli yang mengemukakan
pendapat tentang pengertian psikologi,
diantaranya:
- Pengertian psikologi menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid 13 (1990), Psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dan binatang baik yang dapat dilihat secara langsung maupun yang tidak dapat dilihat secara langsung.
- Pengertian psikologi menurut Dakir (1993), psikologi membahas tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan lingkungannya.
- Pengertian psikologi menurut Muhibbin Syah (2001), psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku terbuka dan tertutup pada manusia baik selaku individu maupun kelompok, dalam hubungannya dengan lingkungan. Tingkah laku terbuka adalah tingkah laku yang bersifat psikomotor yang meliputi perbuatan berbicara, duduk , berjalan dan lain sebgainya, sedangkan tingkah laku tertutup meliputi berfikir, berkeyakinan, berperasaan dan lain sebagainya.
Dari beberapa definisi tersebut
diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian psikologi adalah ilmu
pengetahuan yang mempelajari gejala-gejala kejiwaaan manusia yang teraplikasi
dalam tingkah lakunya, baik sebagai
individu maupun dalam hubungannya dengan lingkungannya. Tingkah
laku tersebut berupa tingkah laku yang tampak maupun tidak tampak, tingkah laku
yang disadari maupun yang tidak disadari.
1.
Aliran Psikologi
Psikologi sebagai sebuah ilmu akan selalu berkembang, seiring
dengan berkembangnya mazhab-mashab dan teori-teori baru yang bermunculan.
Teori-teori yang muncul biasanya merupakan kritik dari teori-teori sebelumnya.
Memang, patut diakui bahwa titik pandang (teori) dalam psikologi tidak ada yang
sempurna, sehingga terbuka kesempatan bagi ilmuwan untuk memberikan kritik dan
masukan ataupun penyempurnaan dari teori yang sudah ada.
Dalam tulisan ini
penulis akan membahas beberapa aliran dalam psikologi, yakni Psikoanalisa,
Behaviorisme, Humanistik (Holistik), Psikologi Gestalt, Psikologi Positif,
Psikologi Transpersonal dan Psikologi lintas Budaya (Cross Culture Psychology).
a.
Psikoanalisis
Salah satunya tokoh
psikoanalisis adalah Sigmund Freud (1856 – 1939). Nama
asli Freud adalah Sigismund Scholomo. Namun sejak
menjadi mahasiswa Freud tidak mau menggunakan nama itu karena kata Sigismund
adalah bentukan kata Sigmund. Freud lahir pada 6 Mei 1856 di Freiberg, Moravia.
Saat itu Moravia merupakan bagian dari kekaisaran Austria-Hongaria (sekarang
Cekoslowakia). Pada usia empat tahun Freud dibawa hijrah ke Wina, Austria
(Berry, 2001:3). Kedatangan Freud berbarengan dengan ramainya teori The
Origin of Species karya Charles Darwin (Hall, 2000:1).
Psikoanalisis bermula dari
keraguan Freud terhadap kedokteran. Pada saat itu kedokteran dipercaya bisa
menyembuhkan semua penyakit, termasuk histeria yang sangat menggejala di Wina
(Freud, terj.,1991:4). Pengaruh Jean-Martin Charcot, neurolog Prancis, yang
menunjukkan adanya faktor psikis yang menyebabkan histeria mendukung pula
keraguan Freud pada kedokteran (Berry, 2001:15). Sejak itu Freud dan doktor
Josef Breuer menyelidiki penyebab histeria. Pasien yang menjadi subjek
penyelidikannya adalah Anna O. Selama penyelidikan, Freud melihat
ketidakruntutan keterangan yang disampaikan oleh Anna O. Seperti ada yang
terbelah dari kepribadian Anna O. Penyelidikan-penyelidikan itu yang membawa
Freud pada kesimpulan struktur psikis manusia: id, ego, superego dan
ketidaksadaran, prasadar, dan kesadaran.
Freud menjadikan prinsip ini untuk menjelaskan segala
yang terjadi pada manusia, antara lain mimpi. Menurut Freud, mimpi adalah
bentuk penyaluran dorongan yang tidak disadari. Dalam keadaan sadar orang
sering merepresi keinginan-keinginannya. Karena tidak bisa tersalurkan pada keadaan
sadar, maka keinginan itu mengaktualisasikan diri pada saat tidur, ketika
kontrol ego lemah.
Dalam pandangan Freud,
semua perilaku manusia baik yang nampak (gerakan otot) maupun yang tersembunyi
(pikiran) adalah disebabkan oleh peristiwa mental sebelumnya. Terdapat
peristiwa mental yang kita sadari dan tidak kita sadari namun bisa kita akses (preconscious)
dan ada yang sulit kita bawa ke alam tidak sadar (unconscious). Di alam tidak sadar
inilah tinggal dua struktur mental yang ibarat gunung es dari kepribadian kita,
yaitu:
- Id, adalah berisi energi psikis, yang hanya memikirkan kesenangan semata;
- Superego, adalah berisi kaidah moral dan nilai-nilai sosial yang diserap individu dari lingkungannya;
- Ego, adalah pengawas realitas.
Sebagai contoh adalah berikut ini: Anda adalah seorang bendahara
yang diserahi mengelola uang sebesar 1 miliar Rupiah tunai. Id mengatakan
pada Anda: “Pakai saja uang itu sebagian, toh tak ada yang tahu!”. Sedangkan ego berkata:”Cek
dulu, jangan-jangan nanti ada yang tahu!”. Sementara superego
menegur:”Jangan lakukan!”.
Pada masa kanak-kanak kira
dikendalikan sepenuhnya oleh id, dan pada tahap ini oleh Freud
disebut sebagai primary process thinking. Anak-anak
akan mencari pengganti jika tidak menemukan yang dapat memuaskan kebutuhannya
(bayi akan mengisap jempolnya jika tidak mendapat dot misalnya).
Sedangkan ego akan lebih berkembang pada masa
kanak-kanak yang lebih tua dan pada orang dewasa. Di sini disebut sebagai tahap
secondary
process thinking. Manusia sudah dapat menangguhkan pemuasan
keinginannya (sikap untuk memilih tidak jajan demi ingin menabung misalnya).
Walau begitu kadangkala
pada orang dewasa muncul sikap seperti primary process thnking, yaitu
mencari pengganti pemuas keinginan (menendang tong sampah karena merasa jengkel
akibat dimarahi bos di kantor misalnya).
Proses pertama adalah apa
yang dinamakan EQ (emotional quotient), sedangkan
proses kedua adalah IQ (intelligence quotient) dan proses
ketiga adalah SQ (spiritual quotient).
b. Behaviourisme
Aliran ini sering dikatkan
sebagai aliran ilmu jiwa namun tidak peduli pada jiwa. Pada akhir abad ke-19,
Ivan Petrovic Pavlov memulai eksperimen psikologi yang mencapai puncaknya pada
tahun 1940 – 1950-an. Di sini psikologi didefinisikan sebagai sains dan
sementara sains hanya berhubungan dengan sesuatu yang dapat dilihat dan diamati
saja. Sedangkan ‘jiwa’ tidak bisa diamati, maka tidak digolongkan ke dalam
psikologi.
Aliran ini memandang
manusia sebagai mesin (homo mechanicus) yang dapat dikendalikan
perilakunya melalui suatu pelaziman (conditioning). Sikap yang
diinginkan dilatih terus-menerus sehingga menimbulkan maladaptive
behaviour atau perilaku menyimpang. Salah satu contoh adalah ketika
Pavlov melakukan eksperimen terhadap seekor anjing. Di depan anjing
eksperimennya yang lapar, Pavlov menyalakan lampu. Anjing tersebut tidak
mengeluarkan air liurnya. Kemudian sepotong daging ditaruh dihadapannya dan
anjing tersebut terbit air liurnya. Selanjutnya begitu terus setiap kali lampu
dinyalakan maka daging disajikan. Begitu hingga beberapa kali percobaan,
sehingga setiap kali lampu dinyalakan maka anjing tersebut terbit air liurnya
meski daging tidak disajikan. Dalam hal ini air liur anjing menjadi conditioned
response dan cahaya lampu menjadi conditioned stimulus.
Percobaan yang hampir sama
dilakukan terhadap seorang anak berumur 11 bulan dengan seekor tikus putih.
Setiap kali si anak akan memegang tikus putih maka dipukullah sebatang besi
dengan sangat keras sehingga membuat si anak kaget. Begitu percobaan ini
diulang terus menerus sehingga pada taraf tertentu maka si anak akan menangis
begitu hanya melihat tikus putih tersebut. Bahkan setelah itu dia menjadi takut
dengan segala sesuatu yang berbulu: kelinci, anjing, baju berbulu dan topeng Sinterklas.
Ini yang dinamakan
pelaziman dan untuk mengobatinya kita bisa melakukan apa yang disebut sebagai
kontrapelaziman (counterconditioning).
c.
Psikologi Humanistis
Aliran ini muncul akibat
reaksi atas aliran behaviourisme dan psikoanalisis. Kedua aliran ini dianggap
merendahkan manusia menjadi sekelas mesin atau makhluk yang rendah. Aliran ini
biasa disebut mazhab ketiga setelah
Psikoanalisa dan Behaviorisme. Salah satu tokoh dari aliran ini – Abraham Maslow –
mengkritik Freud dengan mengatakan bahwa Freud hanya meneliti mengapa setengah
jiwa itu sakit, bukannya meneliti mengapa setengah jiwa yang lainnya bisa tetap
sehat.
Salah satu bagian dari
humanistic adalah logoterapi. Adalah Viktor Frankl yang mengembangkan teknik
psikoterapi yang disebut sebagai logotherapy (logos
= makna). Pandangan ini berprinsip:
1)
Hidup memiliki makna,
bahkan dalam situasi yang paling menyedihkan sekalipun;
2)
Tujuan hidup kita yang
utama adalah mencari makna dari kehidupan kita itu sendiri;
3)
Kita memiliki kebebasan untuk memaknai apa
yang kita lakukan dan apa yang kita alami bahkan dalam menghadapi kesengsaraan
sekalipun.
Frankl mengembangkan teknik ini berdasarkan pengalamannya
lolos dari kamp konsentrasi Nazi pada masa Perang Dunia II, di mana dia
mengalami dan menyaksikan penyiksaan-penyiksaan di kamp tersebut. Dia
menyaksikan dua hal yang berbeda, yaitu para tahanan yang putus asa dan para
tahanan yang memiliki kesabaran luar biasa serta daya hidup yang perkasa.
Frankl menyebut hal ini sebagai kebebasan seseorang memberi makna pada
hidupnya. Logoterapi ini sangat erat kaitannya dengan SQ, yang bisa
kita kelompokkan berdasarkan situasi-situasi berikut ini:
a. Ketika
seseorang menemukan dirinya (self-discovery). Sa’di (seorang
penyair besar dari Iran) menggerutu karena kehilangan sepasang sepatunya di
sebuah masjid di Damaskus. Namun di tengah kejengkelannya itu ia melihat bahwa
ada seorang penceramah yang berbicara dengan senyum gembira.
Kemudian tampaklah olehnya
bahwa penceramah tersebut tidak memiliki sepasang kaki. Maka tiba-tiba ia
disadarkan, bahwa mengapa ia sedih kehilangan sepatunya sementara ada orang
yang masih bisa tersenyum walau kehilangan kedua kakinya.
b. Makna
muncul ketika seseorang menentukan pilihan. Hidup menjadi tanpa makna
ketika seseorang tak dapat memilih. Sebagai contoh: seseorang yang mendapatkan
tawaran kerja bagus, dengan gaji besar dan kedudukan tinggi, namun ia harus
pindah dari Yogyakarta menuju Singapura. Di satu sisi ia mendapatkan kelimpahan
materi namun di sisi lainnya ia kehilangan waktu untuk berkumpul dengan
anak-anak dan istrinya. Dia menginginkan pekerjaan itu namun sekaligus punya
waktu untuk keluarganya. Hingga akhirnya dia putuskan untuk mundur dari
pekerjaan itu dan memilih memiliki waktu luang bersama keluarganya. Pada saat
itulah ia merasakan kembali makna hidupnya.
c. Ketika
seseorang merasa istimewa, unik dan tak tergantikan. Misalnya:
seorang rakyat jelata tiba-tiba dikunjungi oleh presiden langsung di rumahnya.
Ia merasakan suatu makna yang luar biasa dalam kehidupannya dan tak akan
tergantikan oleh apapun. Demikian juga ketika kita menemukan seseorang yang
mampu mendengarkan kita dengan penuh perhatian, dengan begitu hidup kita
menjadi bermakna.
d. Ketika kita
dihadapkan pada sikap bertanggung jawab. Seperti contoh di atas, seorang
bendahara yang diserahi pengelolaan uang tunai dalam jumlah sangat besar dan
berhasil menolak keinginannya sendiri untuk memakai sebagian uang itu untuk
memuaskan keinginannya semata. Pada saat itu si bendahara mengalami makna yang
luar biasa dalam hidupnya.
e. Ketika kita
mengalami situasi transendensi (pengalaman yang membawa kita ke luar dunia
fisik, ke luar suka dan duka kita, ke luar dari diri kita sekarang).
Transendensi adalah pengalaman spiritual yang memberi makna pada kehidupan
kita.
d. Psikologi Gestalt
Psikologi Gestalt berasal dari bahasa Jerman
yang berarti menggambarkan konfigurasi atau bentuk yang utuh. Suatu gestalt
dapat berupa objek yang berbeda dari jumlah bagian-bagiannya. Semua penjelasan
tentang bagian-bagian objek akan mengakibatkan hilangnya gestalt
itu sendiri. Sebagai contoh, ketika melihat sebuah persegi panjang maka hal ini
dapat dipahami dan dijelaskan sebagai persegi panjang berdasarkan keutuhannya
atau keseluruhannya dan identitas ini tidak bisa dijelaskan sebagai empat garis
yang saling tegak lurus dan berhubungan.
Sejalan dengan itu, gestalt menunjukkan premis
dasar sistem psikologi yang mengonseptualisasi berbagai peristiwa psikologis
sebagai fenomena yang terorganisasi, utuh dan logis. Pandangan ini menjelaskan
integritas psikologis aktivitas manusia yang jelas. Menurut para gestaltis,
pada waktu itu psikologi menjadi kehilangan identitas jika dianalisis menjadi
komponen-komponen atau bagian-bagian yang telah ada sebelumnya.
Psikologi gestalt adalah gerakan jerman yang secara langsung menantang
psikologi strukturalisme Wundt. Para gestaltis mewarisi tradisi psikologi aksi
dari Brentano, Stumpf dan akademi Wurzburg di jerman, yang berupaya
mengembangkan alternatif bagi model psikologi yang diajukan oleh model ilmu
pengetahuan alam reduksionistik dan analitik dari Wundt.
Gerakan gestalt lebih konsisten dengan tema utama dalam
filsafat jerman yakni aktivitas mental dari pada sistem Wundt. Psikologi
gestalt didasari oleh pemikiran Kant tentang teori nativistik yang mengatakan
bahwa organisasi aktivitas mental membuat individu berinteraksi dengan
lingkungannya melalui cara-cara yang khas. Sehingga tujuan psikologi gestalt
adalah menyelidiki organisasi aktivitas mental dan mengetahui secara tepat
karakteristik interaksi manusia-lingkungan. Hingga pada tahun 1930,
gerakan gestalt telah berhasil menggantikan model wunditian dalam psikologi
Jerman. Namun, keberhasilan gerakan tersebut tidak berlangsung lama kerena
munculnya hitlerisme. Sehingga para pemimpin gerakan tersebut hijrah ke
Amerika.
Psikologi gestalt diawali dan dikembangakan melalui
tulisan-tulisan tiga tokoh penting, yaitu Max Wertheimer, Wolfgang Kohler dan Kurt
Koffka. Ketiganya dididik dalam atmosfer intelektual yang
menggairahkan pada awal abad 20 di Jerman, dan ketiganya melarikan diri dari
kejaran nazi dan bermigrasi ke Amerika.
Tetapi di Amerika
psikologi gestalt tidak memperoleh dominasi seperti di Jerman. Hal ini
dikarenakan psikologi Amerika telah berkembang melalui periode fungsionalisme
dan pada tahun 1930-an didominasi oleh behaviorisme. Oleh karena itu, kerangka
psikologi gestalt tidak sejalan dengan perkembangan-perkembangan di Amerika.
e. Psikologi Transpersonal
Kata transpersonal berasal
dari kata trans yang berarti melampaui dan persona berarti topeng. Secara
etimologis, transpersonal berarti melampaui gambaran manusia yang kelihatan.
Dengan kata lain, transpersonal berarti melampaui macam-macam topeng yang
digunakan manusia.
Menurut John Davis, psikologi transpersonal bisa
diartikan sebagai ilmu yang menghubungkan psikologi dengan spiritualitas.
Psikologi transpersonal merupakan salah satu bidang psikologi yang
mengintegrasikan konsep, teori dan metode psikologi dengan kekayaan-kekayaan
spiritual dari bermacam-macam budaya dan agama. Konsep inti dari psikologi
transpersonal adalah nondualitas (nonduality), suatu pengetahuan bahwa
tiap-tiap bagian (misal: tiap-tiap manusia) adalah bagian dari keseluruhan alam
semesta. Penyatuan kosmis dimana segala-galanya dipandang sebagai satu
kesatuan.
Perintisan psikologi
transpersonal diawali dengan penelitian-penelitian tentang psikologi kesehatan
pada tahun 1960-an yang dilakukan oleh Abraham Maslow (Kaszaniak,2002).
Perkembangan psikologi transpersonal lebih pesat lagi setelah terbitnya Journal
of Transpersonal Psychology pada tahun 1969 dimasa disiplin ilmu
psikologi mulai mengarahkan perhatian pada dimensi spiritual manusia.
Penelitian mengenai
gejala-gejala ruhaniah seperti peak experience, pengalaman mistis, exctasy,
keadaran ruhaniah, pengalaman transpersonal, aktualisasi dan pengalaman
transpersonal mulai dikembangkan. Aliran psikologi yang memfokuskan diri pada
kajian-kajian transpersonal menamakan dirinya aliran psikologi transpersonal
dan memproklamirkan diri sebagai aliran ke empat setelah psikoanalisis,
behaviourisme dan humanistic. Psikologi transpersonal memfokuskan diri pada
bentuk-bentuk kesadaran manusia, khususnya taraf kesadaran ASCs (Altered States
of Consciosness). Sejak 1969, ketika Journal of Transpersonal Psychology terbit
untuk pertamakalinya, psikology mulai mengarahkan perhatiannya pada dimensi
spiritual manusia. Penelitian yang dilakukan untuk memahami gejala-gejala
ruhaniah seperti peak experience, pengalaman mistis, ekstasi, kesadaran kosmis,
aktualisasi transpersonal pengalaman spiritual dan kecerdasan spiritual
(Zohar,2000).
Aliran psikologi
Transpersonal ini dikembangkan oleh tokoh psikologi humanistic antara lain :
Abraham Maslow, Antony Sutich, dan Charles Tart. Sehingga boleh dikatakan bahwa
aliran ini merupakan perkembangan dari aliran humanistic. Sebuah definisi
kekemukakan oleh Shapiro yang merupakan gabungan dari pendapat tentang
psikologi transpersonal : psikologi transpersonal mengkaji tentang poitensi
tertinggi yang dimiliki manusia, dan melakukan penggalian, pemahaman,
perwujudan dari kesatuan, spiritualitas, serta kesadaran transendensi.
Menurut Maslow pengalaman
keagamaan meliputi peak experience, plateu, dan farthes reaches of human
nature. Oleh karena itu psikologi belum sempurna sebelum memfokuskan kembali
dalam pandangan spiritual dan transpersonal. Maslow menulis (dalam Zohar,
2000). “I should say also that I consider Humanistic, Third Force psychology,
to be trantitional, a preparation for still higher Fourth Psychology, a
transpersonal, transhuman centered in the cosmos rather than in human needs and
interest, going beyond humanness, identity, self actualization, and the like”.
Psikologi transpersonal
lebih menitikberatkan pada aspek-aspek spiritual atau transcendental diri
manusia. Hal inilah yang membedakan konsep manusia antara psikologi humanistic
dengan psikologi transpersonal. McWaters (dalam Nusjirwan, 2001) membuat sebuah
diagram yang berbentuk lingkaran dimana setiap lingkaran mewakili satu tingkat
berfungsinya menusia dan tingkat kesadaran diri manusia.
Tiap tingkat dari bagian
diatas menunjukan tingkat fungsi dan tingkat kesadaran manusia. Lingkaran 1,2
dan 3 yang berturut-turut mewakili aspek fisikal, aspek emosional dan aspek
intelektual dari kekuatan batin individu. Lingkaran 4 menggambarkan
pengintegrasian dari lingkaran 1, 2 dan 3 yang memungkinkan individu berfungsi
secara harminis pada tingkat pribadi. Keempat lingkaran ini termasuk dalam
kawasan personal manusia.
Tingkatan berikutnya termasuk dalam kategori wilayah transpersonal manusia. Lingkaran 5 mewakili aspek intuisi. Pada aspek ini mulai samara-samar menyadari bahwa ia bisa mempersepsi tanpa perantara panca indra (extra sensory perception). Lingkaran 6 mewakili aspek energi psikis (kekuatan bathiniah) di mana individu secara jelas menghayati dirinya sebagai telah mentransedir/melewati kesadaran sensoris dan pada saat yang sama menyadari pengintegrasian dirinya dengan medan-medan energi yang lebih besar. Fenomena-fenomena para psikologi dapat dialami pada tingkat kesadaran ini. Lingkaran 7 mewakili bentuk penghayatan paling tinggi-penyatuan mistis atau pencerahan, dimana diri seseorang mentransendir dualintas dan menyatu dengan segala yang ada. Melewati ke tujuh tingkat yang disebutkan itu, dikatakan lagi tingkat pengembangan potensial dimana semua tingkat dihayati secara simultan.
Tingkatan berikutnya termasuk dalam kategori wilayah transpersonal manusia. Lingkaran 5 mewakili aspek intuisi. Pada aspek ini mulai samara-samar menyadari bahwa ia bisa mempersepsi tanpa perantara panca indra (extra sensory perception). Lingkaran 6 mewakili aspek energi psikis (kekuatan bathiniah) di mana individu secara jelas menghayati dirinya sebagai telah mentransedir/melewati kesadaran sensoris dan pada saat yang sama menyadari pengintegrasian dirinya dengan medan-medan energi yang lebih besar. Fenomena-fenomena para psikologi dapat dialami pada tingkat kesadaran ini. Lingkaran 7 mewakili bentuk penghayatan paling tinggi-penyatuan mistis atau pencerahan, dimana diri seseorang mentransendir dualintas dan menyatu dengan segala yang ada. Melewati ke tujuh tingkat yang disebutkan itu, dikatakan lagi tingkat pengembangan potensial dimana semua tingkat dihayati secara simultan.
Konsep dari McWater ini
dapat menjelaskan bagaimana seseorang mencapai kualitas diri melalui metode
tafakur. Ketika seseorang berada pada fase pertama dalam bertafakur berarti dia
berada pada dunia fisik yaitu pengetahuan yang didapat dari fungsi indera.
Sebuah kejadian akan dipresepsi secara empiris yang langsung melalui
pendengaran, penglihatan atau alat indera lainnya, atau secara tidak langsung
seperti pada fenomena imajinasi, pengetahuan rasional yang abstrak, yang
sebagaian pengetahuan ini tidak ada hubungannya dengan emosi. Jika seseorang
memperdalam cara melihat dan mengamati sisi-sisi keindahan, kekuatan, dan
keistimewaan lainnya yang dimiliki sesuatu, berarti ia telah berpindah dari
pengetahuan yang indrawi menuju rasa kekaguman ( tadlawuk) dimana pada tahap
ini adalah tahap bergejolaknya perasaan, disini kita melihat bahwa tahap ini sesuai
dengan tahap kedua dari McWater yaitu emosional. Pada tahap selanjutnya, dengan
bertafakur aktiitas kognitif seseorang muali delibtkan, disinilah tafakur
sangat berperan dalam proses pengintegrasian ketiga komponen tadi yaitu fisik,
dmosi dan intelektual.
Kemudian jika hasil
pengintegrasian seseorang ini ditransendensikan kepada Allah maka kualitas
seseorang tadi akan meningkat dari personal menuju transpersonal. Badri (1989)
mencontohkan seseorang yang sudah pada tahap transpersonal ini “perasaan kagum
manusia terhadap keindahan dan keagungan penciptaan serta perasaan kecil dan
hina di tengah malam, yang ia saksikan merupakan fitrah yang sudah diberikan
Allah kepada manusia untuk dapat melihat semua yang ada di langit dan di bumi
sehingga ia dapat menemukan sang pencipta, merasakan khusuk terhada-Nya, dan
dapat menyembah-Nya. Baik karena takut atau karena cinta”. Dari ungkapan
tersebut dapat dita lihat bahwa seseorang yang mengakui bahwa keindahan itu
adalah ciptaan Allah maka berarti dia sudah memasuki dunia transpersonal.
f. Psikologi Positif
Psikologi yang berkembang
dewasa ini dapat disebut sebagai psikologi negatif, karena berkutat pada
sisi-negatif manusia. Psikologi, karena itu, paling banter hanya menawarkan
terapi atas masalah-masalah kejiwaan. Padahal, manusia tidak hanya ingin
terbebas dari problem, tetapi juga mendambakan kebahagiaan. Adakah psikologi
jenis lain yang menjawab harapan ini?
Martin Seligman, seorang psikolog pakar studi optimisme, memelopori
revolusi dalam bidang psikologi melalui gerakan Psikologi Positif. Berlawanan
dengan psikologi negatif, sains baru ini mengarahkan perhatiannya pada
sisi-positif manusia, mengembangkan potensi-potensi kekuatan dan kebajikan
sehingga membuahkan kebahagiaan yang autentik dan berkelanjutan.
Dalam buku revolusioner yang ditulis dengan gaya populer
ini, Seligman memperkenalkan prinsip-prinsip dasar Psikologi Positif, ciri-ciri
kebahagiaan yang autentik, dan faktor-faktor pendukungnya. Dengan metode-metode
praktis yang dirumuskannya, Anda dapat memanfatkan temuan-temuan terbaru dari
sains kebahagiaan untuk mengukur dan mengembangkan kebahagiaan dalam hidup
Anda.
Psikologi positif adalah cabang baru psikologi yang bertujuan diringkas
pada tahun 2000 oleh Martin Seligman dan Mihaly
Csikszentmihalyi “Kami percaya bahwa psikologi positif akan muncul
fungsi manusia yang mencapai pemahaman ilmiah dan efektif untuk membangun
berkembang dalam individu, keluarga, dan masyarakat. Psikologi positif mencari”
untuk mencari dan membina jenius dan bakat “, dan” untuk membuat kehidupan
normal lebih memuaskan “, tidak hanya untuk mengobati penyakit mental.
Pendekatan ini telah menciptakan banyak menarik di sekitar subjek, dan pada
tahun 2006 studi di Universitas Harvard yang berjudul “Psikologi Positif”
menjadi kursus semester yang paling populer semester.
Beberapa Psikolog
Humanistik, seperti Abraham Maslow, Carl Rogers, dan Erick Fromm mengembangnak
teori dan praktek yang melibatkan kebahagiaan manusia. Baru-baru ini teori yang
dikembangkan oleh para psikolog humanistik ini telah menemukan dukungan empiris
dari studi oleh para psikolog positif, meskipun penelitian ini telah banyak
dikritik. Teori ini lebih berfokus pada kepuasan dengan sumber filosofismenya
keagamaan dan psikologi humanistik.
Psikologi adalah ilmu yang
mempelajari tentang jiwa dan perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari. Dan
selama ini yang kita ketahui, bidang psikologi selalu menghadapi hal-hal yang
berhubungan dengan jiwa seseorang, misalnya penyebab orang mengalami gangguan
jiwa, mengapa orang bisa mengalami stress, dan lain-lain. Yang selalu
berhubungan dengan sisi negatif seseorang.
Tetapi selami ini kita mengenal yang nama nya psikologi
positif, yaitu lebih menekankan apa yang benar/baik pada seseorang,
dibandingkan apa yang salah/buruk. Sebelumnya, psikologi biasanya selalu
menekankan apa yang salah pada manusia, seperti soalan stress, depresi,
kegelisahan dan lain lain.
Itulah sebabnya, ada
aliran baru dalam dunia psikologi, dan menyebutnya sebagai psikologi positif.
Menurut Seligman,
“Psikologi
bukan hanya studi tentang kelemahan dan kerusakan; psikologi juga adalah studi
tentang kekuatan dan kebajikan. Pengobatan
bukan hanya memperbaiki yang rusak; pengobatan juga berarti mengembangkan apa
yang terbaik yang ada dalam diri kita.” Misi Seligman ialah
mengubah paradigma psikologi, dari psikologi patogenis yang hanya berkutat pada
kekurangan manusia ke psikologi positif, yang berfokus pada kelebihan manusia.
Berfokus terhadap
penanganan berbagai masalah bukanlah hal baru dalam dunia psikologi. Sejak
dulu, manusia selalu dipandang sebagai makhluk yang bermasalah. Sejak awal mula
munculnya aliran psikologi (mashab behaviorisme), manusia dipandang sebagai
suatu mekanik yang penuh dengan banyak masalah. Mashab ini kemudian melihat
masalah yang ada pada manusia, belum lagi dengan mashab psikoanalisis yang
melihat kenangan masa lalu sebagai penyebab penderitaan yang ada saat ini.
Apapun itu, psikologi yang berkembang selama bertahun-tahun lamanya lebih
memedulikan kekurangan ketimbang kelebihan yang ada pada manusia. Itulah
sebabnya psikologi yang berkutat pada masalah sering disebut sebagai psikologi
negatif.
Psikologi positif
berhubungan dengan penggalian emosi positif, seperti bahagia, kebaikan, humor,
cinta, optimis, baik hati, dan sebagainya. Sebelumnya, psikologi lebih banyak
membahas hal-hal patologis dan gangguan-gangguan jiwa juga emosi negatif,
seperti marah, benci, jijik, cemburu dan sebagainya. Dalam Richard S. Lazarus,
disebutkan bahwa emosi positif biasanya diabaikan atau tidak ditekankan, hal
ini tidak jelas kenapa demikian. Kemungkinan besar hal ini karena emosi negatif
jauh lebih tampak dan memiliki pengaruh yang kuat pada adaptasi dan rasa nyaman
yang subyektif dibanding melakukan emosi positif. Contohnya, pada saat kita marah,
maka ada rasa nyaman yang terlampiaskan, rasa superior, dan sebagainya. Ada
suatu penelitian mengatakan bahwa marah adalah emosi yang dipelajari, sehingga
dia akan cenderung untuk mengulangi hal yang dirasa nyaman.
Psikologi positif tidak
bermaksud mengganti atau menghilangkan penderitaan, kelemahan atau gangguan
(jiwa), tapi lebih kepada menambah khasanah atau memperkaya, serta untuk
memahami secara ilmiah tentang pengalaman manusia.
Jadi intinya saat ini kita
sudah mengenal yang nama nya psikologi positif, ada baiknya kita merubah diri
kita sedikit demi sedikit. Sebisa mungkin kita lebih mengeluarkan emosi positif
kita dibandingkan emosi negatif kita. Maka hasilnya pun akan positif.
g. Psikologi Lintas Budaya (Cross Culture Psychology)
Kata budaya sangat umum
dipergunakan dalam bahasa sehari-hari. Paling sering budaya dikaitkan dengan
pengertian ras, bangsa atau etnis. Kata budaya juga kadang dikaitkan dengan
seni, musik, tradisi-ritual, atau peninggalan-peninggalan masa lalu. Sebagai
sebuah entitas teoritis dan konseptual, budaya membantu memahami bagaimana kita
berperilaku tertentu dan menjelaskan perbedaan sekelompok orang. Sebagai sebuah
konsep abstrak, lebih dari sekedar label, budaya memiliki kehidupan sendiri, ia
terus berubah dan tumbuh, akibat dari pertemuan-pertemuan dengan budaya lain,
perubahan kondisi lingkungan, dan sosiodemografis. Budaya adalah produk yang
dipedomani oleh individu-individu yang tersatukan dalam sebuah kelompok. Budaya
menjadi pengikat dan diinternalisasi individu-individu yang menjadi anggota
suatu kelompok, baik disadari maupun tidak disadari.
Pada awal perkembangannya,
ilmu psikologi tidak menaruh perhatian terhadap budaya. Baru sesudah tahun
50-an budaya memperoleh perhatian. Namun baru pada tahun 70-an ke atas budaya
benar-benar memperoleh perhatian. Pada saat ini diyakini bahwa budaya memainkan
peranan penting dalam aspek psikologis manusia.
Oleh karena itu, pengembangan ilmu
psikologi yang mengabaikan faktor budaya dipertanyakan kebermaknaannya.
Triandis (2002) misalnya, menegaskan bahwa psikologi sosial hanya dapat
bermakna apabila dilakukan lintas budaya. Hal tersebut juga berlaku bagi
cabang-cabang ilmu psikologi lainnya.
Sebenarnya bagaimana hubungan antara psikologi dan
budaya? Secara sederhana Triandis (1994) membuat kerangka sederhana bagaimana
hubungan antara budaya dan perilaku sosial, Ekologi – budaya – sosialisasi –
kepribadian – perilaku.
Sementara itu Berry,
Segall, Dasen, & Poortinga (1999) mengembangkan sebuah kerangka untuk
memahami bagaimana sebuah perilaku dan keadaan psikologis terbentuk dalam
keadaan yang berbeda-beda antar budaya. Kondisi ekologi yang terdiri dari
lingkungan fisik, kondisi geografis, iklim, serta flora dan fauna, bersama-sama
dengan kondisi lingkungan sosial-politik dan adaptasi biologis dan adaptasi
kultural merupakan dasar bagi terbentuknya perilaku dan karakter psikologis.
Ketiga hal tersebut kemudian akan melahirkan pengaruh ekologi, genetika,
transmisi budaya dan pembelajaran budaya, yang bersama-sama akan melahirkan
suatu perilaku dan karakter psikologis tertentu.
Pada umumnya penelitian
psikologi lintas budaya dilakukan lintas negara atau lintas etnis. Artinya
sebuah negara atau sebuah etnis diperlakukan sebagai satu kelompok budaya. Dari
sisi praktis, hal itu sangat berguna. Meskipun hal tersebut juga menimbulkan
persoalan, apakah sebuah negara bisa diperlakukan sebagai satu kelompok budaya
bila didalamnya ada ratusan etnik seperti halnya indonesia? Dalam posisi
seperti itu, penggunaan bahasa nasional yakni bahasa indonesia menjadi dasar
untuk menggolongkan seluruh orang indonesia ke dalam satu kelompok budaya. Pada
akhirnya tidak ada kategori kaku yang bisa digunakan untuk melakukan
pengelompokan budaya. Apakah batas-batas budaya itu ditandai dengan ras, etnis,
bahasa, atau wilayah geografis, semuanya bisa tumpang tindih satu sama lain
atau malah kurang relevan.
Sebuah definisi mengenai
budaya dalam konteks psikologi lintas budaya diperlukan guna pemahaman yang
sama mengenai apa yang dimaksud budaya dalam psikologi lintas budaya. Culture
as the set of attitudes, values, belifs, and behaviors shared by a group of
people, but different for each individual, communicated from one generation to
the next (Matsumoto, 1996). Definisi Matsumoto dapat diterima karena definisi
ini memenuhi semua perdebatan sebelumnya; budaya sebagai gagasan, baik yang
muncul sebagai perilaku maupun ide seperti nilai dan keyakinan, sekaligus
sebagai material, budaya sebagai produk (masif) maupun sesuatu (things) yang
hidup (aktif dan menjadi panduan bagi individu anggota kelompok. Selain itu,
definisi tersebut menggambarkan bahwa budaya adalah suatu konstruk sosial
sekaligus konstruk individu.
Psikologi lintas budaya
adalah cabang psikologi yang (terutama) menaruh perhatian pada pengujian
berbagai kemungkinan batas-batas pengetahuan dengan mempelajari orang-orang
dari berbagai budaya yang berbeda. Dalam arti sempit, penelitian lintas budaya
secara sederhana hanya berarti dilibatkannya partisipasian dari latar belakang
kultural yang berbeda dan pengujian terhadap kemungkinan-kemungkinan adanya
perbedaan antara para partisipan tersebut.
Dalam arti luas, psikologi
lintas budaya terkait dengan pemahaman atas apakah kebenaran dan
prinsip-prinsip psikologis bersifat universal (berlaku bagi semua orang di
semua budaya) ataukah khas budaya (culture spscific, berlaku bagi orang-orang
tertentu di budaya-budaya tertentu) (Matsumoto, 2004).
Menurut Seggal, Dasen, dan
Poortinga (1990) psikologi lintas budaya adalah kajian ilmiah mengenai perilaku
manusia dan penyebarannya, sekaligus memperhitungkan cara perilaku itu
dibentuk, dan dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan sosial dan budaya. Pengertian
ini mengarahkan perhatian pada dua hal pokok, yaitu keragaman perilaku manusia
di dunia, dan kaitan antara perilaku individu dengan konteks budaya, tempat
perilaku terjadi. Terdapat beberapa definisi lain (menekankan beberapa
kompleksitas), antara lain:
a.
Menurut Triandis, Malpass,
dan Davidson (1972) psikologi lintas budaya mencakup kajian suatu pokok
persoalan yang bersumber dari dua budaya atau lebih, dengan menggunakan metode
pengukuran yang ekuivalen, untuk menentukan batas-batas yang dapat menjadi
pijakan teori psikologi umum dan jenis modifikasi teori yang diperlukan agar
menjadi universal.
b.
Menurut Brislin, Lonner,
dan Thorndike, 1973) menyatakan bahwa psikologi lintas budaya ialah kajian
empirik mengenai anggota berbagai kelompok budaya yang telah memiliki perbedaan
pengalaman, yang dapat membawa ke arah perbedaan perilaku yang dapat diramalkan
dan signifikan.
c.
Triandis (1980)
mengungkapkan bahwa psikologi lintas budaya berkutat dengan kajian sistematik
mengenai perilaku dan pengalaman sebagaimana pengalaman itu terjadi dalam
budaya yang berbeda, yang dipengaruhi budaya atau mengakibatkan
perubahan-perubahan dalam budaya yang bersangkutan.
Setiap definisi dari masing-masing ahli di atas, menitikberatkan
ciri tertentu, seperti misalnya pertama, gagasan kunci yang ditonjolkan ialah
cara mengenali hubungan sebab-akibat antara budaya dan perilaku. Kedua,
berpusat pada peluang rampat (generalizabiliti) dari pengetahuan psikologi yang
dianut. Ketiga lebih menitikberatkan pengenalan berbagai jenis pengalaman
budaya. Kempat, mengedepankan persoalan perubahan budaya dan hubungannya dengan
perilaku individual. Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas, dapat
ditarik suatu kesimpulan bahwa psikologi lintas budaya adalah psikologi yang
memperhatikan faktor-faktor budaya, dalam teori, metode dan aplikasinya.
2. Metode
Psikologi
Psikologi resmi berdiri sebagai disiplin
ilmu pada tahun 1879, yakni setelah didirikannya labolatorium oleh wilhem wundt
di leipzig di jerman.
Metode-metode dalam penelitian psikologi (
sarwono,1982:13-17) :
1. Metode eksperimen;
2. Observasi alamiah;
3. Sejarah kehidupan;
4. Wawancara;
5. Pemeriksaan psikologis
1. Metode Eksperimen
Metode ini adalah
metode yang digunakan dalam meneliti aspesk psikis manusia dengan melakukan
serangkaian percobaan di labolatorium. Peneliti mempunyai kontrol sepenuhnya terhadap
jalannya suatu eksperimen. Yaitu menentukan akan melakukan apa pada sesuatu
yang akan ditelitinya, kapan akan melakukan penelitian, seberapa sering
melakukan penelitiannya, dan sebagainya.
2. Observasi Ilmiah
Pada observasi ilmiah, suatu hal
pada situasi-situasi yang ditimbulkan tidak dengan sengaja. Melainkan dengan
proses ilmiah dan secara spontan. Observasi alamiah ini dapat diterapkan pula
pada tingkah laku yang lain, misalnya saja : tingkah laku orang-orang yang
berada di toko serba ada, tingkah laku pengendara kendaraan bermotor dijalan
raya, tingkah laku anak yang sedang bermain, perilaku orang dalam bencana alam,
dan sebagainya.
3. Sejarah Kehidupan
Sejarah kehidupan seseorang dapat
merupakan sumber data yang penting untuk lebih mengetahui “jiwa” orang yang
bersangkutan, misalnya dari cerita ibunya, seorang anak yang tidak naik kelas
mungkin diketahui bahwa dia bukannya kurang pandai tetapi minatnya sejak kecil
memang dibidang musik sehingga dia tidak cukup serius untuk mengikuti
pendidikan di sekolahnya.
4.
Wawancara
Wawancara merupakan tanya jawab si
pemeriksa dan orang yang diperiksa. Agar orang diperiksa itu dapat menemukan
isi hatinya itu sendiri, pandangan-pandangannya, pendapatnya dan lain-lain
sedemikian rupa sehingga orang yang mewawancarai dapat menggali semua informasi
yang dibutuhkan. Keuntungan interview dibandingkan
dengan angket yaitu:
a. Pada
interview apabila terdapat hal yang kurang jelas maka dapat diperjelas.
b. Interviwer
(penanya) dapat menyesuaikan dengan suasana hati interviwee ( responden yang
ditanyai).
c. Terdapat
interaksi langsung berupa face to facesehingga diharapkan dapat membina
hubungan yang baik saat proses interview dilakukan.
5. Pemeriksaan Psikologi
Dalam bahasa populernya pemeriksaan
psikologi disebut juga dengan psikotes Metode ini menggunakan alat-alat
psikodiagnostik tertentu yang hanya dapat digunakan oleh para ahli yang
benar-benar sudah terlatih. alat-alat itu dapat dipergunakan unntuk mengukur
dan untuk mengetahui taraf kecerdasan seseorang, arah minat seseorang, sikap
seseorang, struktur kepribadian seeorang, dan lain-lain dari orang yang
diperiksa itu. Metode Psikologi
Perkembangan Pada Metode Psikologi Perkembangan memiliki 2 metode, yaitu metode
umum dan metode khusus. pada metode umum ini pendekatan yang dipakai dengan
pendekatan longitudinal, transversal, dan lintas budaya. Dari pendekatan ini
terlihat adanya data yang diperoleh secara keseluruhan perkembangan atau hanya
beberapa aspek saja dan bisa juga melihat dengan berbagai faktor dari bawaan
dan lingkungan khususnya kebudayaan.
Sedangkan pada metode khusus merupakan suatu metode yang akan diselidiki
dengan suatu proses alat atau perhitungan yang cermat dan pasti. Dalam
pendekatan ini dapat digunakan dengan pendekatan eksperimen dan observasi. Psikologi kontemporer Diawali pada
abad ke 19, dimana saat itu berkembang 2 teori dalam menjelaskan tingkah laku,
yaitu: Psikologi Fakultas Psikologi fakultas adalah doktrin abad 19 tentang
adanya kekuatan mental bawaan, menurut teori ini, kemampuan psikologi
terkotak-kotak dalam beberapa ‘fakultas’ yang meliputi berpikir, merasa, dan
berkeinginan. Fakultas ini terbagi lagi menjadi beberapa subfakultas. Kita
mengingat melalui subfakultas memori, pembayangan melalui subfakultas imaginer,
dan sebagainya. Psikologi Asosiasi Bagian dari psikologi kontemporer abad 19
yang mempercayai bahwa proses psikologi pada dasarnya adalah asosiasi ide yaitu
bahwa ide masuk melalui alat indera dan diasosiasikan berdasarkan prinsip-prinsip
tertentu seperti kemiripan, kontras, dan kedekatan.
Dan dalam
buku lain penulis menemukan para ahli juga menggunakan beberapa metode alain
seprti, yakni metode angket.
Angket merupakan wawancara dalam bentuk tertulis. Semua
pertanyaan telah di susun secara tertulis pada lembar-lembar pertanyaan itu,
dan orang yang diwawancarai tinggal membaca pertanyaan yang diajukan, lalu
menjawabnya secara tertulis pula. Jawaban-jawabannya akan dianalisis untuk
mengetahui hal-hal yang diselidiki.
Angket merupakan wawancara
dalam bentuk tertulis. Semua pertanyaan telah di susun secara tertulis pada
lembar-lembar pertanyaan itu, dan orang yang diwawancarai tinggal membaca
pertanyaan yang diajukan, lalu menjawabnya secara tertulis pula.
Jawaban-jawabannya akan dianalisis untuk mengetahui hal-hal yang diselidiki.
Dilakukan dengan cara menganalisis hasil
karya seperti gambar - gambar, buku harian atau karangan yang telah dibuat. Hal
ini karena karya dapat dianggap sebagai pencetus dari keadaan jiwa seseorang.
Metode Statistik ,Umumnya digunakan
dengan cara mengumpulkan data atau materi dalam penelitian lalu mengadakan
penganalisaan terhadap hasil; yang telah didapat.
4.
Teori-teori
Psikologi
a. Teori Biologis
Menurut David O. Sears, Psikologi Sosial (1985:11) Manusia
dilahirkan dengan berbagai karakteristik biologis yang membedakannya dengan
hewan dan sesamanya. Dalam tingkat paling sederhana, karakteristik ini
membatasi kemungkinan perilaku manusia dan rangsangan yang muncul. Manusia
tidak dapat terbang, mereka dapat makan daging, mereka cukup kuat dan memiliki
kecakapan fisik yang relative setara dengan hewan dan sebagainya. Manusia juga
cerdas, memiliki bahasa (kemampuan untuk mengembangkannya), memiliki daya ingat
yang baik, dan umur yang panjang. Mereka memiliki pendengaran dan penglihatan
yang baik, tetapi hanya mampu bereaksi terhadap rentang suara dan cahaya yang
terbatas. Daftar karakteristik bawaan dapat diperbanyak, tetapi yang jelas
sifat-sifat ini mempengaruhi perilaku sosial, diantaranya :
1. Naluri
Ada
pendapat bahwa manusia memiliki naluri untuk menjadi agresif. Konrad Lorenz dan
juga ahli lain mengemukakan pendapat bahwa dorongan agresif ada di didalam diri
manusia sejak lahir dan tidak dapat diubah. Pemikiran bahwa agresi bersifat
naluriah tidak banyak membantu usaha memahami mengapa Anton merampok atau
menembak polisi, kecuali menyatakan bahwa potensi agresi merupakan bagian dari
sifat manusia. Pemikiran itu tidak membantu usaha kita untuk memahami mengapa
Anton menjadi penjahat dan polisi itu tidak.
Tetapi
bagaimanapun juga, pandangan ini merupakan salah satu cara memandang perilaku
manusia.
2. Perbedaan Genetik
Secara
umum bahwa penyebab semua perilaku, termasuk perilaku sosial, dapat diketahui
dari sifat biologis seseorang dari susunan genetik, dari karakteristik bawaan,
dari karakteristik fisik yang berkembang sejak lahir, atau dari pertumbuhan
fisik sementara seperti yang disebabkan oleh produksi hormone atau perangsangan
otak. Para ahli psikologi sosial beranggapan hanya sedikit mekanisme perilaku
bawaan atau naluriah yang ada di dalam diri manusia.
b. Teori Belajar Sosial
Menurut John W. Santrock (1995:46) beberapa psikologi yakin bahwa
para behavioris pada dasarnya benar ketika mereka mengatakan perkembangan
dipelajari dan dipengaruhi secara kuat oleh pengalaman-pengalaman lingkungan.
Teori belajar sosial (social learning theory) ialah pandangan para pakar
psikologi yang menekankan perilaku, lingkungan, dan kognisi sebagai faktor
kunci dalam perkembangan. Para teoritis belajar sosial mengatakan kita tidak
seperti robot yang tidak memiliki pikiran, yang tanggap secara mekanis kepada
orang lain didalam lingkungan kita.
c. Teori Kognitif
Pokok pikiran utama pendekatan kognitif dalam psikologi sosial
adalah perilaku seseorang tergantung pada caranya mengamati situasi sosial. Dan
hukum mengenai persepsi sosial sangat mirip dengan hukum persepsi objek. Secara spontan dan otomatis orang yang
mengorganisasikan persepsi, pikiran dan keyakinannya tentang situasi sosial ke
dalam bentuk yang sederhana dan bermakna.
Prinsip kognitif yang sederhana merupakan dasar bagi sejumlah teori
penting dalam psikologi sosial. Attribution theory (teori attribusi),
yang dikembangkan oleh Harold Kelley dan kawan-kawannya, terutama berkaitan
dengan bagaimana kita menginterpretasikan kausalitas.
Menurut Shelley E. Taylor, Psikologi Sosial (2009)
pendekatan kognitif berbeda dengan pendekatan belajar dalam dua hal. Pertama,
pendekatan kognitif lebih berfokus pada persepsi saat ini ketimbang pada
pengalaman masa lalu.
Kedua, pendekatan kognitif lebih memerhatikan arti penting persepsi atau
interpretasi seseorang terhadap suatu situasi, bukan pada “realitas” objektif
dari situasi sebagaimana disaksikan oleh pengamat netral
Menurut Bimo Walgito, Psikologi Sosial (2003:99) dalam teori
ini, proses kognitif menjadi dasar dari timbulnya prasangka. Hal ini berkaitan
dengan kategorisasi dan ingroups lawan outgroup. Kategorisasi merupakan
persepsi kelompok dengan kelompok lain, dan memasukkan apa yang dipersepsi itu
kedalam suatu kategori tertentu. Sedangkan ingroup lawan outgroup apabila
kategorisasi kita (us) dan mereka (them). Seseorang dalam suatu
kelompok merasa dirinya sebagai ingroup dan orang lain dalam kelompok lain
outgroup. Dalam ingroup adanya beberapa dampak yang dapat timbul, yaitu :
a.
Anggota
ingroup mempersepsi anggota ingroup yang lain lebih mempunyai kesamaan apabila
dibandingkan dengan anggota outgroup.
b.
Kategorisasi
ingroup dan outgroup mempunyai dampak bahwa ingroup lebih faforit dari pada
outgroup.
c.
Bahwa
seseorang dalam ingroup memandang outgroup lebih homogin daripada ingroup baik
dalam hal kepribadian maupun dalam hal-hal yang lain.
d. Teori Insentif / Pertukaran Sosial
Menurut David O. Sears, Psikologi Sosial (1985:14)
Pendekatan umum yang ketiga memandang perilaku sebagai suatu sesuatu yang
ditentukan oleh insentif yang tersedia bagi bermacam-macam tindakan. Orang
bertindak berdasarkan keuntungan dan kerugian yang mereka peroleh dari setiap
perilaku. Kembali pada anton, dia memperkirakan bahwa bila dia melarikan diri,
dia akan dikejar dan bahkan ditembak, yang menambah pertimbangan adanya
insentif negatif. Dia mungkin berpikir bahwa dengan menembak polisi itu, dia
akan dapat melepaskan diri dengan membawa uang yang merupakan insentif positif
dan bukan insentif negatif. Analisis insentif benar-benar mempertimbangkan
hal-hal yang mendukung dan mengurangi kemungkinan munculnya perilaku tertentu,
dan berdasarkan hal itu meramalkan bagaimana seseorang akan berperilaku.
Menurut Shelley E. Taylor, Psikologi Sosial (2009) prinsip
pertukaran sosial didasarkan pada gagasan teori belajar dan teori pengambilan
keputusan. Teori pertukaran sosial menganalisis interaksi antar-orang dari segi
keuntungan dan kerugian yang dipertukarkan individu.
Dalam kasus ini, kepentingan kedua belah pihak bertamu dalam
interaksi kerjasama dan sahabat. Teori pertukaran sosial tertutama berguna
untuk menganalisis situasi tawar-menawar dimana dua pihak harus mencapai
kesepakatan meski kepentingan mereka berbeda.
C. PRILAKU MANUSIA
Perilaku manusia adalah sekumpulan
perilaku yang dimiliki oleh manusia dan dipengaruhi oleh adat,sikap ,emosi
,nilai ,etika , kekuasaan, persuasi, dan/atau genetika. Perilaku seseorang dikelompokkan ke dalam perilaku wajar,
perilaku dapat diterima, perilaku aneh, dan perilaku menyimpang. Dalam sosiologi,
perilaku dianggap sebagai sesuatu yang tidak ditujukan kepada orang lain dan
oleh karenanya merupakan suatu tindakan sosial manusia yang sangat mendasar. Perilaku tidak boleh
disalahartikan sebagai perilaku sosial, yang merupakan suatu tindakan dengan
tingkat lebih tinggi, karena perilaku sosial adalah perilaku yang secara khusus
ditujukan kepada orang lain.
Menurut
Bimo Walgito, Psikologi Sosial (2003:127) perilaku merupakam suatu
individu atau organisme yang timbul dengan sendirinya, tetapi sebagai akibat
stimulus yang diterima oleh organisme yang bersangkutan baik stimulus eksternal
maupun internal. Ada ahli yang memandang bahwa perilaku sebagai respons
terhadap stimulus, akan sangat ditentukan oleh keadaan stimulusnya, dan
individu atau organism seakan-akan tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan
perilaku, hubungan stimulus dan respons seakan-akan tidak mempunyai kemampuan
untuk menentukan perilakunya, hubungan stimulus dan respons seakan-akan
bersifat mekanistis.
Penerimaan terhadap
perilaku seseorang diukur relatif terhadap norma sosial dan diatur oleh
berbagai kontrol sosial. Dalam kedokteran perilaku seseorang dan keluarganya
dipelajari untuk mengidentifikasi faktor penyebab, pencetus atau yang
memperberat timbulnya masalah kesehatan. Intervensi terhadap perilaku
seringkali dilakukan dalam rangka penatalaksanaan yang holistik dan komprehensif. Perilaku manusia
dipelajari dalam ilmu psikologi, sosiologi, ekonomi, antropologi dan kedokteran.
Faktor-faktor yang memengaruhi perilaku manusia :
- Genetika;
- Sikap, adalah suatu ukuran tingkat kesukaan seseorang terhadap perilaku tertentu;
- Norma sosial, adalah pengaruh tekanan sosial;
- Kontrol perilaku pribadi, adalah kepercayaan seseorang mengenai sulit tidaknya melakukan suatu perilaku.
Ruang lingkup Prilaku Manusia
Benjamin Bloom, seorang
psikolog pendidikan, membedakan adanya tiga bidang perilaku, yakni kognitif,
afektif, dan psikomotor. Kemudian dalam perkembangannya, domain perilaku yang
diklasifikasikan oleh Bloom dibagi menjadi tiga tingkat:
1)
Pengetahuan (Knowledge)
Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu
seseorang terhadap obyek melalui indera yang dimilikinya.
2)
Sikap
(Attitude)
Sikap merupakan respons
tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu, yang sudah melibatkan
faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan.
3)
Tindakan
atau praktik (Practice)
Tindakan ini merujuk pada
perilaku yang diekspresikan dalam bentuk tindakan, yang merupakan bentuk nyata
dari pengetahuan dan sikap yang telah dimiliki.
Selain itu, Skinner juga
memaparkan definisi perilaku sebagai berikut perilaku merupakan hasil hubungan
antara rangsangan (stimulus) dan tanggapan (respon). Ia membedakan adanya dua
bentuk tanggapan, yakni:
1)
Respondent
Response atau reflexive
response, ialah tanggapan yang ditimbulkan oleh rangsangan-rangsangan tertentu.
Rangsangan yang semacam ini disebut eliciting stimuli karena menimbulkan
tanggapan yang relatif tetap.
2)
Operant Response atau Instrumental Response, adalah tanggapan yang timbul
dan berkembangnya sebagai akibat oleh rangsangan tertentu, yang disebut reinforcing stimuli atau reinforcer.
Rangsangan tersebut dapat memperkuat respons yang telah dilakukan oleh
organisme. Oleh sebab itu, rangsangan yang demikian itu mengikuti atau
memperkuat sesuatu perilaku tertentu yang telah dilakukan.
Perilaku Sehat
Menurut Becker . Konsep
perilaku sehat ini merupakan pengembangan dari konsep perilaku yang
dikembangkan Bloom. Becker menguraikan perilaku kesehatan menjadi tiga domain,
yakni pengetahuan kesehatan (health knowledge), sikap terhadap kesehatan
(health attitude) dan praktik kesehatan (health practice). Hal ini
berguna untuk mengukur seberapa besar tingkat perilaku kesehatan individu yang
menjadi unit analisis penelitian. Becker mengklasifikasikan perilaku kesehatan
menjadi tiga dimensi :
1. Pengetahuan Kesehatan Pengetahuan
tentang kesehatan mencakup apa yang diketahui oleh seseorang terhadap cara-cara
memelihara kesehatan, seperti pengetahuan tentang penyakit menular, pengetahuan
tentang faktor-faktor yang terkait. dan atau memengaruhi kesehatan, pengetahuan
tentang fasilitas pelayanan kesehatan, dan pengetahuan untuk menghindari kecelakaan.
2. Sikap terhadap
kesehatan Sikap terhadap kesehatan adalah pendapat atau penilaian seseorang
terhadap hal-hal yang berkaitan dengan pemeliharaan kesehatan, seperti sikap
terhadap penyakit menular dan tidak menular, sikap terhadap faktor-faktor yang
terkait dan atau memengaruhi kesehatan, sikap tentang fasilitas pelayanan
kesehatan, dan sikap untuk menghindari kecelakaan.
3. Praktek kesehatan Praktek
kesehatan untuk hidup sehat adalah semua kegiatan atau aktivitas orang dalam
rangka memelihara kesehatan, seperti tindakan terhadap penyakit menular dan
tidak menular, tindakan terhadap faktor-faktor yang terkait dan atau
memengaruhi kesehatan, tindakan tentang fasilitas pelayanan kesehatan, dan
tindakan untuk menghindari kecelakaan.
Selain Becker, terdapat
pula beberapa definisi lain mengenai perilaku kesehatan. Menurut Solita,
perilaku kesehatan merupakan segala bentuk pengalaman dan interaksi individu
dengan lingkungannya, khususnya yang menyangkut pengetahuan dan sikap tentang
kesehatan, serta tindakannya yang berhubungan dengan kesehatan. Sedangkan Cals
dan Cobb mengemukakan perilaku kesehatan
sebagai: “perilaku untuk mencegah penyakit pada tahap belum menunjukkan gejala (asymptomatic
stage)”.
Menurut Skinner
perilaku kesehatan (healthy behavior) diartikan sebagai respon
seseorang terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sehat-sakit, penyakit,
dan faktor-faktor yang memengaruhi kesehatan seperti lingkungan, makanan, minuman,
dan pelayanan 49kesehatan. Dengan kata lain, perilaku kesehatan adalah semua
aktivitas atau kegiatan seseorang, baik yang dapat diamati (observable)
maupun yang tidak dapat diamati (unobservable), yang berkaitan dengan
pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. Pemeliharaan kesehatan ini mencakup
mencegah atau melindungi diri dari penyakit dan masalah kesehatan lain,
meningkatkan kesehatan, dan mencari penyembuhan apabila sakit atau terkena
masalah kesehatan.
D. MANUSIA DAN LINGKUNGAN
1.
Pengertian Manusia
Manusia
adalah makhluk hidup ciptaan tuhan dengan segala fungsi dan potensinya yang
tunduk kepada aturan hukum alam, mengalami kelahiran, pertumbuhan,
perkembangan, mati, dan seterusnya, serta terkait dan berinteraksi dengan alam
dan lingkungannya dalam sebuah hubungan timbal balik positif maupun negatif.
Manusia
adalah makhluk yang terbukti berteknologi tinggi. Ini karena manusia memiliki
perbandingan massa otak dengan massa tubuh terbesar diantara semua makhluk yang
ada di bumi. Walaupun ini bukanlah pengukuran yang mutlak, namun perbandingan
massa otak dengan tubuh manusia memang memberikan petunjuk dari segi
intelektual relatif.
Manusia
atau orang dapat diartikan dari sudut pandang yang berbeda-beda, baik itu
menurut biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran.
secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai homo sapiens (bahasa
latin untuk manusia) yang merupakan sebuah spesies primata dari golongan
mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi.
Manusia
juga sebagai mahkluk individu memiliki pemikiran-pemikiran tentang apa yang
menurutnya baik dan sesuai dengan tindakan-tindakan yang akan diambil. Manusia
pun berlaku sebagai makhluk sosial yang saling berhubungan dan keterkaitannya
dengan lingkungan dan tempat tinggalnya.
2.
Pengertian Lingkungan
Lingkungan
adalah suatu media dimana makhuk hidup tinggal, mencari penghidupannya, dan
memiliki karakter serta fungsi yang khas yang terkait secara timbal balik
dengan keberadaan makhluk hidup yang menempatinya, terutama manusia yang
memiliki peranan yang lebih kompleks.
Kehidupan manusia tidak bisa dipisahkan dari lingkungannya. Baik
lingkungan alam
maupun lingkungan sosial . Kita bernapas memerlukan udara dari lingkungan
sekitar. Kita makan, minum, menjaga kesehatan, semuanya memerlukan lingkungan.
Pengertian lain dari lingkungan adalah segala sesuatu yang
ada disekitar manusia yang memengaruhi perkembangan kehidupan manusia baik
langsung maupun tidak langsung.
Lingkungan bisa dibedakan menjadi
lingkungan biotik dan abiotik. Jika kalian berada di sekolah, lingkungan
biotiknya berupa teman-teman sekolah, bapak ibu guru serta karyawan, dan semua
orang yang ada di sekolah, juga berbagai jenis tumbuhan yang ada di kebun
sekolah serta hewan-hewan yang ada disekitarnya. Adapun lingkungan abiotik
berupa udara , meja kursi, papan tulis, gedung sekolah, dan berbagai macam
benda mati yang ada disekitar.
Seringkali lingkungan yang terdiri
dari sesama manusia disebut juga sebagai lingkungan sosial . Lingkungan sosial
inilah yang membentuk sistem pergaulan yang besar peranannya dalam membentuk kepribadian
seseorang.
3) Manusia dan Perkembangan
Tahap tahap perkembangan manusia memiliki fase yang cukup
panjang. Untuk tujuan pengorganisasian dan pemahaman, kita umumnya
menggambarkan perkembangan dalam pengertian periode atau fase perkembangan.
Klasifikasi periode
perkembangan yang paling luas digunakan meliputi urutan sebagai berikut:
Periode pra kelahiran, masa bayi, masa awal anak anak, masa pertengahan dan
akhir anak anak, masa remaja, masa awal dewasa, masa pertengahan dewasa dan
masa akhir dewasa.
Perkiraan rata rata
rentang usia menurut periode berikut ini memberi suatu gagasan umum kapan suatu
periode mulai dan berakhir. Berikut adalah penjelasan lebih lanjut mengenai
pada setiap periode tahap tahap perkembangan manusia dalam buku Life-Span
Development oleh John Santrock:
a. Periode Prakelahiran (prenatal period) ialah saat dari pembuahan hingga kelahiran. Periode ini merupakan masa
pertumbuhan yang luar biasa dari satu sel tunggal hingga menjadi organisme yang
sempurna dengan kemampuan otak dan perilaku, yang dihasilkan kira kira dalam
periode 9 bulan.
b. Masa Bayi (infacy)
ialah
periode perkembangan yang merentang dari kelahiran hingga 18 atau 24 bulan.
Masa bayi adalah masa yang sangat bergantung pada orang dewasa. Banyak kegiatan
psikologis yang terjadi hanya sebagai permulaan seperti bahasa, pemikiran
simbolis, koordinasi sensorimotor, dan belajar sosial.
c.
Masa Awal Anak Anak (early chidhood) yaitu periode pekembangan yang merentang dari masa bayi hingga usia lima
atau enam tahun, periode ini biasanya disebut dengan periode prasekolah. Selama
masa ini, anak anak kecil belajar semakin mandiri dan menjaga diri mereka
sendiri, mengembangkan keterampilan kesiapan bersekolah (mengikuti perintah,
mengidentifikasi huruf), dan meluangkan waktu berjam jam untuk bermain dengan
teman teman sebaya. Jika telah memasuki kelas satu sekolah dasar, maka secara
umum mengakhiri masa awal anak anak.
d. Masa Pertengahan Dan Akhir Anak-Anak (middle and late childhood) ialah periode perkembangan yang merentang dari usia kira kira enam hingga
sebelas tahun, yang kira kira setara dengan tahun tahun sekolah dasar, periode
ini biasanya disebut dengan tahun tahun sekolah dasar. Keterampilan
keterampilan fundamental seperti membaca, menulis, dan berhitung telah
dikuasai. Anak secara formal berhubungan dengan dunia yang lebih luas dan
kebudayaan. Prestasi menjadi tema yang lebih sentral dari dunia anak dan
pengendalian diri mulai meningkat.
e. Masa Remaja (adolescence)
ialah
suatu periode transisi dari masa awal anak anak hingga masa awal dewasa, yang
dimasuki pada usia kira kira 10 hingga 12 tahun dan berakhir pada usia 18 tahun
hingga 22 tahun. Masa remaja bermula pada perubahan fisik yang cepat,
pertambahan berat dan tinggi badan yang dramatis, perubahan bentuk tubuh, dan
perkembangan karakteristik seksual seperti pembesaran buah dada, perkembangan
pinggang dan kumis, dan dalamnya suara. Pada perkembangan ini, pencapaian
kemandirian dan identitas sangat menonjol (pemikiran semakin logis, abstrak,
dan idealistis) dan semakin banyak menghabiskan waktu di luar keluarga.
f. Masa Awal Dewasa (early adulthood) ialah periode perkembangan yang bermula pada akhir usia belasan tahun
atau awal usia duapuluhan tahun dan yang berakhir pada usia tugapuluhan tahun.
Ini adalah masa pembentukan kemandirian pribadi dan ekonomi, masa perkembangan
karir, dan bagi banyak orang, masa pemilihan pasangan, belajar hidup dengan
seseorang secara akrab, memulai keluarga, dan mengasuh anak anak.
g. Masa Pertengahan Dewasa (middle adulthood) ialah periode perkembangan yang bermula pada usia kira kira 35 hingga 45
tahun dan merentang hingga usia enampuluhan tahun. Ini adalah masa untuk
memperluas keterlibatan dan tanggung jawab pribadi dan sosial seperti membantu
generasi berikutnya menjadi individu yang berkompeten, dewasa dan mencapai
serta mempertahankan kepuasan dalam berkarir.
h. Masa Akhir Dewasa (late adulthood) ialah periode
perkembangan yang bermula pada usia enampuluhan atau tujuh puluh tahun dan
berakhir pada kematian. Ini adalah masa penyesuaian diri atas berkurangnya
kekuatan dan kesehatan, menatap kembali kehidupannya, pensiun, dan penyesuaian
diri dengan peran peran sosial baru.
4. Faktor Endogen (Dalam Diri) dan Eksogen (Lingkungan)
Faktor endogen ialah faktor atau sifat yang dibawa oleh
individu sejak dalam kandungan hingga saat dilahirkan. Jadi faktor endogen
merupakan faktor keturunan atau faktor bawaan. Sebagai faktor keturunan yang
merupakan penaran dari gen yang diturunkan, maka tidaklah mengherankan kalau
faktor endogen yang dibawa oleh individu itu mempunyai sifat-sifat seperti
orang tuanya. Ini berarti bahwa keadaan atau sifat-sifat dari anak itu tidak
meninggalkan sifat-sifat dari orang tuanya.
Kita mengenal bahwa faktor-faktor endogen yang nampak pada
saat individu itu dilahirkan, adalah adanya sifat-sifat tertentu yang
berhubungan dengan faktor kejasmanian, misalnya warna kulit, warna dan jenis
rambut, rupa wajah, golongan darah, dan sebagainya. Faktor pembawaan yang
berhubungan dengan keadaan jasmani pada umumnya tidak dapat diubah begitu saja,
dan merupakan faktor dasar dalam ciri fisik individu.
Disamping
itu individu juga mempunyai sifat-sifat pembawaan psikologik yang erat
hubungannya dengan keadaan jasmani yaitu temperamen. Temperamen merupakan
sifat-sifat pembawaan yang erat hubungannya dengan struktur kejasmanian
seseorang, yang berhubungan dengan fungsi-fungsi fisiologik seperti darah,
kelenjar-kelenjar, cairan-cairan lain, yang terdapat dalam diri manusia.
Temperamen berbeda dengan karakter atau watak.
Karakter
atau watak merupakan keseluruhan dari sifat seseorang yang nampak dalam perbuatannya
sehari-hari, sebagai hasil bawaan maupun lingkungan. Temperamen pada umumnya
bersifat konstan, sedangkan watak atau karakter lebih bersifat tidak konstan,
dapat berubah-ubah sesuai dengan pengaruh lingkungan.
Selain itu individu masih mempunyai sifat-sifat pembawaan
yang berupa bakat (atitude). Bakat bukanlah sesuatu yang telah jadi dan
terbentuk pada pada waktu individu dilahirkan, tetapi baru merupakan
potensi-potensi saja. Supaya potensi tersebut teraktualisasikan dibutuhkan
kesempatan untuk mengaktualisasikan bakat-bakat tersebut. Disinilah dukungan
lingkungan yang baik diperlukan dalam perkembangan individu.
Faktor eksogen ialah faktor yang datang dari luar diri
individu, merupakan pengalaman-pengalaman, kejadian alam sekitar, pendidikan,
dan sebagainya. Umumnya pengaruh lingkungan bersifat pasif dalam arti bahwa
lingkungan tidak memberikan pengaruhnya secara paksa kepada individu.
Lingkungan hanya menyediakan kemungkinan-kemungkinan atau kesempatan-kesempatan
kepada individu. Apakah individu mengambil manfaat dari kesempatan yang
diberikan oleh lingkungan tersebut atau tidak tergantung kepada individu yang
bersangkutan. Lain halnya dengan pendidikan yang bersifat aktif, penuh tanggung
jawab, dan secara sistematik memang mengarahkan pada pengembangan
potensi-potensi atau bakat-bakat yang ada pada individu sesuai dengan tujuan
pendidikan.
E. PERSEPSI
Menurut Alex Sobur, Psikologi Umum, (2003:445) Secara
etimologis, persepsi dalam bahasa inggris perception berasal dari bahasa
Latin perceptio, dari percipere, yang artinya menerima atau
mengambil. Persepsi menurut para ahli yaitu:
Menurut De Vito (1997:75) dalam buku Alex Sobur, persepsi adalah
proses ketika kita menjadi sadar akan banyaknya stimulus yang mempengaruhi
indera kita. Menurut Yusuf (1991:108) menyebut persepsi sebagai “pemaknaan
hasil pengamatan”. Gulo (1982;207) mendefenisikan persepsi sebagai proses
seseorang menjadi sadar akan segala sesuatu dalam lingkungannya melalui
indra-indra yang dimilikinya. Rahkmat (1994:51) menyatakan bahwa persepsi
adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang
diperoleh dengan menyimpulakan impormasi dan menafsirkan pesan.
Jadi, dapat disimpullkan bahwa Persepsi merupakan suatu proses yang didahului
oleh penginderaan, yaitu suatu stimulus yang diterima oleh individu melalui
alat reseptor yaitu indera. Alat indera merupakan penghubung antara individu
dengan dunia luarnya. Persepsi merupakan stimulus yang diindera oleh individu,
diorganisasikan kemudian diinterpretasikan sehingga individu menyadari dan
mengerti tentang apa yang diindera.
Dengan kata lain persepsi
adalah proses yang menyangkut masuknya pesan atau informasi kedalam otak
manusia.
Persepsi merupakan keadaan integrated
dari individu terhadap stimulus yang diterimanya. Apa yang ada dalam diri
individu, pikiran, perasaan, pengalaman-pengalaman individu akan ikut aktif
berpengaruh dalam proses persepsi.
Gibson, dkk (1989) dalam buku Organisasi
Dan Manajemen Perilaku, Struktur; memberikan
defenisi persepsi adalah proses kognitif yang dipergunakan oleh
individu untuk menafsirkan dan memahami dunia sekitarnya (terhadap obyek).
Gibson juga menjelaskan bahwa persepsi merupakan proses pemberian arti terhadap
lingkungan oleh individu. Oleh karena itu, setiap individu memberikan arti
kepada stimulus secara berbeda meskipun objeknya sama. Cara individu melihat
situasi seringkali lebih penting daripada situasi itu sendiri.
Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan
bahwa pengertian
persepsi merupakan suatu proses penginderaan, stimulus yang
diterima oleh individu melalui alat indera yang kemudian diinterpretasikan
sehingga individu dapat memahami dan mengerti tentang stimulus yang diterimanya
tersebut. Proses menginterpretasikan stimulus ini biasanya dipengaruhi pula oleh
pengalaman dan proses belajar individu.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi persepsi pada
dasarnya dibagi menjadi 2 yaitu Faktor Internal dan Faktor Eksternal.
1. Faktor
Internal yang
mempengaruhi persepsi, yaitu faktor-faktor yang terdapat dalam diri individu,
yang mencakup beberapa hal antara lain :
- Fisiologis. Informasi masuk melalui alat indera, selanjutnya informasi yang diperoleh ini akan mempengaruhi dan melengkapi usaha untuk memberikan arti terhadap lingkungan sekitarnya. Kapasitas indera untuk mempersepsi pada tiap orang berbeda-beda sehingga interpretasi terhadap lingkungan juga dapat berbeda.
- Perhatian. Individu memerlukan sejumlah energi yang dikeluarkan untuk memperhatikan atau memfokuskan pada bentuk fisik dan fasilitas mental yang ada pada suatu obyek. Energi tiap orang berbeda-beda sehingga perhatian seseorang terhadap obyek juga berbeda dan hal ini akan mempengaruhi persepsi terhadap suatu obyek.
- Minat. Persepsi terhadap suatu obyek bervariasi tergantung pada seberapa banyak energi atau perceptual vigilance yang digerakkan untuk mempersepsi. Perceptual vigilance merupakan kecenderungan seseorang untuk memperhatikan tipe tertentu dari stimulus atau dapat dikatakan sebagai minat.
- Kebutuhan yang searah. Faktor ini dapat dilihat dari bagaimana kuatnya seseorang individu mencari obyek-obyek atau pesan yang dapat memberikan jawaban sesuai dengan dirinya.
- Pengalaman dan ingatan. Pengalaman dapat dikatakan tergantung pada ingatan dalam arti sejauh mana seseorang dapat mengingat kejadian-kejadian lampau untuk mengetahui suatu rangsang dalam pengertian luas.
- Suasana hati. Keadaan emosi mempengaruhi perilaku seseorang, mood ini menunjukkan bagaimana perasaan seseorang pada waktu yang dapat mempengaruhi bagaimana seseorang dalam menerima, bereaksi dan mengingat.
2. Faktor
Eksternal yang
mempengaruhi persepsi, merupakan karakteristik dari linkungan dan obyek-obyek
yang terlibat didalamnya. Elemen-elemen tersebut dapat mengubah sudut pandang
seseorang terhadap dunia sekitarnya dan mempengaruhi bagaimana seseoarang
merasakannya atau menerimanya. Sementara itu faktor-faktor eksternal yang
mempengaruhi persepsi adalah :
- Ukuran dan penempatan dari obyek atau stimulus. Faktor ini menyatakan bahwa semakin besrnya hubungan suatu obyek, maka semakin mudah untuk dipahami. Bentuk ini akan mempengaruhi persepsi individu dan dengan melihat bentuk ukuran suatu obyek individu akan mudah untuk perhatian pada gilirannya membentuk persepsi.
- Warna dari obyek-obyek. Obyek-obyek yang mempunyai cahaya lebih banyak, akan lebih mudah dipahami (to be perceived) dibandingkan dengan yang sedikit.
- Keunikan dan kekontrasan stimulus. Stimulus luar yang penampilannya dengan latarbelakang dan sekelilingnya yang sama sekali di luar sangkaan individu yang lain akan banyak menarik perhatian.
- Intensitas dan kekuatan dari stimulus. Stimulus dari luar akan memberi makna lebih bila lebih sering diperhatikan dibandingkan dengan yang hanya sekali dilihat. Kekuatan dari stimulus merupakan daya dari suatu obyek yang bisa mempengaruhi persepsi.
- Motion atau gerakan. Individu akan banyak memberikan perhatian terhadap obyek yang memberikan gerakan dalam jangkauan pandangan dibandingkan obyek yang diam.
F.
PERHATIAN, PENGAMATAN DAN INGATAN
1.
Perhatian
Perhatian adalah pemrosesan
secara sadar sejumlah kecil informasi dari sejumlah besar informasi yang
tersedia. Informasi didapatkan dari penginderaan, ingatan maupun proses kognitif lainnya. Proses perhatian membantu
efisiensi penggunaan sumberdaya mental yang terbatas
yang kemudian akan membantu kecepatan reaksi terhadap rangsang tertentu. Atensi
juga terpengaruh oleh perbedaan usia, terutama pada masa anak. Groover menyebutkan bahwa faktor yang
memengaruhi persepsi dan ingatan adalah perhatian (attention). Perhatian
merupakan aktivitas menjaga sesuatu tetap dalam pikiran yang membutuhkan kerja
mental dan konsentrasi. Terdapat 5 jenis perhatian, yaitu:
1.
Perhatian selektif
(Selective Attention)
Perhatian
selektif terdapat pada situasi dimana seseorang memantau beberapa sumber
informasi sekaligus. Penerima informasi harus memilih salah satu sumber
informasi yang paling penting dan mengabaikan yang lainnya. Faktor-faktor yang
memengaruhi perhatian selektif adalah harapan, stimulus, dan nilai-nilai.
Penerima informasi mengharapkan sebuah sumber tertentu menyediakan informasi
dan memberikan perhatian lebih pada sumber tersebut, memilih stimulus yang
paling memberikan efek atau terlihat dibanding yang lain, dan memilih sumber
informasi yang paling penting.
2.
Perhatian terfokus
(Focused Attention)
Perhatian
terfokus mengacu pada situasi dimana seseorang diberikan beberapa input namun
harus fokus pada satu input saja selama selang waktu tertentu. Penerima
informasi berfokus pada satu sumber/input dan tidak terdistraksi oleh
gangguan-gangguan lain. Faktor yang berpengaruh terhadap perhatian terfokus
adalah jarak dan arah, serta gangguan dari lingkungan sekitar. Penerima
informasi akan lebih mudah menerima informasi dari sumber yang berada langsung
di depannya.
3.
Perhatian terbagi
(Divided Attention)
Perhatian
terbagi terjadi ketika penerima informasi diharuskan menerima informasi dari
berbagai sumber dan melakukan beberapa jenis pekerjaan sekaligus.
4.
Perhatian yang terus
menerus (Sustained Attention)
Perhatian
terus menerus dilakukan penerima informasi yang harus melihat sinyal atau
sumber pada jangka waktu tertentu yang cukup lama. Dalam situasi ini sangat
penting bagi penerima informasi untuk mencegah kehilangan sinyal.
5.
Kurang perhatian (Lack
of Attention)
Kurang
perhatian merupakan situasi dimana penerima informasi tidak berkonsentrasi
terhadap pekerjaannya. Situasi ini disebabkan oleh kebosanan/kejenuhan dan
kelelahan. Ciri-ciri pekerjaan yang dapat menimbulkan situasi kurang perhatian
adalah pekerjaan dengan siklus pendek, sedikit membutuhkan pergerakan tubuh,
lingkungan yang hangat, kurangnya interaksi dengan pekerja lain, motivasi
rendah, dan tempat kerja memiliki pencahayaan yang buruk.
2.
Pengamatan
Manusia memiliki indera untuk mengalami segala sesuatu yang ada
dalam lingkungannya. Dari hasil pengematan itu tinggallah kesan atau
tanggapan. Proses berfungsinya alat
indera terhadap sesuatu akan mengenai indera manusia. Karena manusia itu
merupakan makhluk yang aktif maka manusia terhadap situasi lingkungan itu
bersifat responsible. Manusia secara normal akan selalu mencari objek-objek
dalam lingkungan untuk memenuhi kebutuhannya secara sadar maupun secara tidak
sadar.
Tiap manusia dalam memperoleh tanggapan itu tidak sama, hal ini
dipengaruhi macam tipe tanggapan manusia, yaitu :
1.
Tipe
visual, artinya manusia itu mempunyai ingatan yang baik/kuat dari apa yang
dilihat.
2.
Tipe
auditif, artinya manusia memiliki ingatan yang kuat dari apa yang didengar.
3.
Tipe
motorik, artinya manusia mempunyai ingatan yang kuat dari rangsangan yang
bergerak.
4.
Tipe
tekstual, artinya manusia mempunyai ingatan yang baik dari apa yang diraba.
5.
Tipe
campuran, artinya semua indera memiliki kemampuan yang seimbang, sehingga pada
waktu seseorang pada waktu seseorang mengindera menggunakan semua indera.
3.
Ingatan
Yaitu suatu daya yang dapat menerima, meyimpan, dan memproduksi
kembali kesan-kesan/tanggapan/pengertian ( Abu Ahmadi, 2004:26).
Memory/ingatan kita dipengaruhi oleh :
1.
Sifat
seseorang.
2.
Alam
sekitar.
3.
Keadaan
jasmani.
4.
Keadaan
rohani (jiwa).
5.
Umur
manusia.
Ingatan itu
digolongkan menjadi 2, yaitu :
1.
Daya
ingatan yang mekanis, artinya kekuatan ingatan itu hanya untuk kesan-kesan yang
diperoleh dari penginderaan.
2.
Daya
ingatan logis, artinya daya ingatan itu hanya untuk tanggapan-tanggapan yang
mengandung pengertian.
Ganguan ingatan manusia :
1.
Lupa;
2.
Amnesia;
3.
Paramnesia;
4.
Dayayu;
5.
Jemais yu;
6.
Depersonalis;
7.
Derealis.
G. BELAJAR
Belajar adalah suatu aktifitas
dimana terdapat sebuah proses dari tidak tahu menjadi tahu, tidak mengerti
menjadi mengerti, tidak bisa menjadi bisa untuk mencapai hasil yang optimal.
Belajar adalah perubahan yang
relatif permanen dala perilaku atau
potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat.
Belajar merupakan akibat adanya
interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu
jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam
belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa
respon.
Stimulus adalah apa saja yang
diberikan guru kepada pelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan
pelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang
terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena
tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur, yang dapat diamati adalah stimulus
dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa
yang diterima oleh pelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur. Perubahan akibat belajar dapat
terjadi dalam berbagai bentuk perilaku, dari ranah kognitif , afektif , dan/atau psikomotor .
Tidak terbatas hanya penambahan
pengetahuan saja. Sifat perubahannya
relatif permanen, tidak akan kembali kepada keadaan semula. Tidak bisa
diterapkan pada perubahan akibat situasi sesaat, seperti perubahan akibat kelelahan,
sakit, mabuk, dan sebagainya.
Perubahannya tidak harus langsung
mengikuti pengalaman belajar. Perubahan yang segera terjadi umumnya tidak dalam
bentuk perilaku, tapi terutama hanya dalam potensi seseorang untuk
berperilaku.Perubahan terjadi akibat adanya suatu pengalaman atau latihan.
Berbeda dengan perubahan serta-merta akibat reflex atau perilaku yang bersifat
naluriah.Perubahan akan lebih mudah terjadi bila disertai adanya penguat,
berupa ganjaran yang diterima - hadiah atau hukuman - sebagai konsekuensi adanya
perubahan perilaku tersebut.
H. BERPIKIR
Berpikir ( Abu Ahmadi, 2004:31). adalah daya jiwa yang dapat
meletakkan hubungan-hubungan antara pengetahuan kita. Berpikir itu merupakan
proses yang “dialektis” artinya selama kita berpikir, pikiran kita dalam
keadaan tanya jawab, untuk dapat meletakkan hubungan pengetahuan kita. Dalam pikiran
kita memerlukan alat yaitu akal (ratio). Hasil
berpikir itu dapat diwujudkan dengan bahasa. Inteligensi yaitu suatu kemampuan
jiwa untuk dapat menyesuaikan diri dengan situasi baru secara cepat dan tepat.
Proses yang dilewati dalam berpikir, yaitu :
1.
Proses
pembentukan pengertian, yaitu kita menghilangkan ciri-ciri umum dari sesuatu,
sehingga tinggal cirri khas dari sesuatu tersebut.
2.
Pembentukan
pendapat, yaitu pikiran kita menggabungkan (menguraikan) beberapa pengertian,
sehingga menjadi tanda masalah itu.
3.
Pembentukan
keputusan, yaitu pikiran kita menggabung-gabungkan pendapat tersebut.
4.
Pembentukan
kesimpulan, yaitu pikiran kita menarik keputusan-keputusan dari keputusan yang
lain.
I. INTELEGENSI
a.
Pengertian Inteligensi
Menurut W Stren, dalam Abu Ahmadi (2004: 33) adalah
suatu daya jiwa untuk dapat menyesuaikan diri dengan dengan cepat dan tepat
dalam situasi yang baru. Inteligensi
erat sekali dengan kata “intelek”, sebab keduanya berasal dari kata Latin yang
sama, yaitu intellegere, yang berarti memahami. Sehubungan dengan
pengertian inteligensi ini, ada yang mendefinisikan inteligensi sebagai :
“Kemampuan untuk berpikir secara abstrak” (Terman); “Kemampuan untuk
menyesuaikan diri dengan lingkungannya” (Colvin); ada pula yang mendefinisikan
inteligensi sebagai “Intelek plus pengetahuan” (Henmon); “Teknik untuk
memproses informasi yang disediakan oleh indra (Hunt).
Inteligensi atau kecerdasan merupakan suatu kemampuan tertinggi dari jiwa makhluk hidup
yang hanya dimiliki oleh manusia.
Inteligensi ini diperoleh
manusia, dan sejak itulah potensi inteligansi ini mulai berfungsi mempengaruhi
tempo dan kualitas perkembangan individu, dan manakala sudah berkembang, maka
fungsinya akan semakin berarti lagi bagi manusia yaitu akan mempengaruhi
kualitas penyesuai dirinya dengan lingkungannya.
b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Inteligensi
Untuk membahas faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi
inteligensi, kita selalu ditarik kedalam kontroversi Bawaan vs Lingkungan.
Kedua faktor tersebut memberikan sumbangan yang sangat berarti pada
perkembangan inteligensi.
a)
Pengaruh
Faktor Bawaan
b)
Pengaruh
Faktor Lingkungan
Berbagai faktor emosional juga dianggap bisa menyebabkan naik
turunnya angka IQ. Namun, para peneliti berpendapat bahwa perubahan IQ, mungkin
disebabkan taraf kecerdasan yang sebenarnya mamang sudah berubah. Dan menurut
mereka, peningkatan atau penurunan ini disebabkan banyak atau kurangnya
rangsangan dari lingkungan.
d.
Ciri-ciri Perilaku
Inteligensi
Penjelasan yang lebih jelas
mengenai ciri-ciri tingkah laku atau perilaku inteligensi ini dikemukakan
Ngalim Purwanto. Dikatakan, suatu perbuatan dapat dianggap inteligensi, bila
memenuhi syarat antara lain :
a)
Masalah
yang dihadapi, sedikit banyak merupakan masalah yang baru bagi yang
bersangkutan.
b)
Perbuatan
inteligensi, sifatnya serasi tujuan dan ekonomis.
c)
Masalah
yang dihadapi, harus mengandung tingkat kesulitan bagi yang bersangkutan.
d)
Keterangan
pemecahanya harus dapat diterima oleh masyarakat.
e)
Perbuatan
inteligensi seringkali menggunakan daya mengabstraksi.
f)
Perbuatan
inteligensi bercirikan kecepatan.
g)
Membutuhkan
pemutusan perhatian dan menghindarkan persamaan yang mengganggu jalanya
pemecahan masalah yang sedang dihadapi.
Ciri-ciri tingkah laku inteligensi berikut ini, sedikit banyak bisa
memperjelas atau menambah pendapat Whiherington dan pendapat Purwanto.
Menurut Effendi
& Praja ( 2006:54), beberapa ciri tingkah laku yang inteligensi ialah sebagai berikut
:
a)
Tingkah
laku yang inteligensi, selalu terarah pada tujuan atau mempunyai tujuan yang
jelas.
b)
Tingkah
laku yang terkoordinasi, semua tenaga dan alat-alat yang diperlukan dalam suatu
pemecahan masalah berada dalam suatu koordinasi.
c)
Memiliki
sikap jasmaniah yang baik, penuh tenaga dan tangkas atau lincah.
d)
Tingkah
laku yang luas fleksibel, tidak statis dan kaku, tetapi selalu siap untuk
mengadakan penyesuaian terhadap situasi yang baru.
e)
Tingkah
laku yang didasari perasaan aman, tenang, dan penuh kepercayaan akan sukses.
f)
Tingkah
laku yang dapat memenuhi kebutuhannya dan bermanfaat bagi orang lain atau
masyarakat.
g)
Tingkah
laku yang efisien, efektif, dan cepat atau menggunakan waktu yang singkat.
h)
Tingkah
laku yang mempunyai latar belakang dan pandangan luas yang meliputi sikap dasar
serta jiwa yang terbuka.
Dengan demikian, dapatlah disebut bahwa inteligensi adalah
kesempurnaan perbuatan kecerdasan. Yang dimaksud kecerdasan ialah kecerdasan (activity)
yang efisien.
J.
PERASAAN DAN EMOSI
Dalam mempelajari “perasaan”, para ahli tidak mengadakan pembedaan
yang tegas dengan emosi. Ada perasaan-perasaan yang sebentar menghilang, tetapi
ada pula perasaan-perasaan yang bertahan lama. Suatu perasaan yang sukar
dihilangkan disebut perseverasi.
Cliffords T Morgan menyatakan (1986:335)
dalam M Darwis Hude (2006: 7) menyatakan bahwa “ emotion is ahard term to definne”. Menurut
Atkinson ( 1991: 74) dalam M Darwis Hude (2006: 7) emosi adalah istilah yang
merujuk pada keadaan dimana perubahan faali menyeluruh terjadi dengan
intensitas yang amat kuat, sedangkan perasaan feeling berlangsung dengan
intensitas yang lebih ringan.
Descartes mengemukakan
emosi-emosi dasar sebanyak enam macam, yakni :
a)
Desire
( keinginan )
b)
Hate
( benci )
c)
Wonder
( kagum )
d)
Sorrow
( kesedihan )
e)
Love
( cinta )
f)
Joy ( kegembiraan )
Semua emosi dasar tersebut, dengan bertambahnya usia dan
bertambahnya pengalaman, akan berkembang menjadi berbagai emosi yang lebih
kompleks melalui proses conditioning dan diferensiasi.
Menurut teori tentang James-Lange, emosi adalah hasil persepsi
seseorang terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuh sebagai respons
terhadap rangsang-rangsang yang datang dari luar. Jadi, kalau seseorang
misalnya melihat seekor harimau, maka reaksinya adalah peredaban darah makin
Perbedaan antara perasaan dan emosi tidak dapat dinyatakan dengan
tegas, karena keduanya merupakan suatu kelangsungan kualitatif yang tidak jelas
batasnya. Pada suatu saat tertentu, suatu warna efektif dapat dikatakan sebagai
perasaan, tetapi dapat juga dikatakan sebagai sebagai emosi. Oleh karena itu,
yang dimaksudkan dengan emosi di sini bukan terbatas pada diri seseorang yang
disertai dengan warna efektif, baik pada tingkat yang lemah (dangkal) maupun
pada tingkat yang kuat (mendalam).
K.
MOTIVASI
Motivasi (motivation) (Sarwono,1982: 26) : adalah keseluruhan dorongan, keinginan, kebutuhan, dan daya yang
sejenis yang mengarahkan perilaku. Seberapapun perbedaan para ahli dalam
mendefenisikan motivasi, namun dapat dipahami bahwa motivasi merupakan
akumulasi daya dan kekuatan yang ada dalam diri seseorang untuk mendorong,
merangsang, menggerakkan, membangkitkan dan member harapan pada tingkah laku.
Motivasi menjadi pengarah dan pembimbing tujuan hidup seseorang, sehingga ia
mampu mengatasi superioritas yang lebih baik. Makin tinggi motivasi hidup
seseorang maka makin tinggi pula intensitas tingkah lakunya, baik secara
kuantitatif maupun kualitatif.
Dengan kata lain, motivasi adalah suatu konstruk teoritis mengenai
terjadinya perilaku. Menurut para ahli, konstruk teoritis ini meliputi
aspek-aspek pengaturan (regulasi), pengarahan (direksi), serta tujuan
(intensif global) dari perilaku. Dan karena tingkah laku manusia yang hendak
dimengerti oleh psikologi, sebab-musababnya disebut “motif” atau “motivasi”,
mengingat manusia adalah makhluk berbudi. Karena itu, Nico Syukur Diater OFM
memakai “motif” tersebut sebagai “penyebab psikologis yang merupakan sumber
serta tujuan dari tindakan dan perbuatan seorang manusia”. Menurut Dister,
penyebab ini bersifat kausal dan sekalug final. Artinya, manusia melakukan
perbuatannya, baik karena terdorong maupun tertarik. Yang khususnya diselidiki
psikologi ialah kebutuhan dan keinginan manusia, baik keinginan yang disadari
maupun yang tidak disadari.
a. Teori-teori tentang Motivasi
Motivasi adalah bidang yang amat sering dipelajari oleh para
psikologi. Ini dapat dimengerti karena pengetahuan akan determinan perilaku ini
akan banyak membantu dalam meramalkan dan mengendalikan dampak-dampak dari
suatu keadaan tertentu terhadap kehidupan manusia.
a.
Teori
Instink
Instink adalah suatu disposisis (kecenderungan) yang ditentukan
secara genetis untuk berperilaku dengan cara tertentu bila dihadapkan pada
rangsang-rangsang tertentu. William James beranggapan bahwa sebagian besar
perilaku manusia ditentukan oleh instink. Ia bahkan berpendapat bahwa perilaku
yang dibawa sejak lahir pada saat manusia lebih daripada binatang.
Meskipun demikian, tidak berarti teori motivasi yang mendasarkan
diri pada instink lalu menjadi pupus. Kritik untuk teori ini datang dari
ahli-ahli yang melihat budaya atau lingkungan sebagai determinan utama dari
perilaku.
b.
Homeostatis
= Teori Drive vs Teori Arousal
Teori drive didasarkan atas determinan-determinan yang
sifatnya biologis. Hull dan kawan-kawan berpendapat bahwa bila tubuh organism
kekurangan zat tertentu, seperti lapar atau haus, maka akan timbul suatu
kebutuhan yang menciptakan ketegangan dalam tubuh. Homeostatis ini merupakan
tujuan dari perilaku bermotif. Teori Arousal yang dipelopori oleh Elizabeth
Duffy dan kawan-kawan mempunyai pendapat tentang homeostatis yang
berbeda dari teori drive.
Menurut mereka, organisme tidak selalu berusaha menghilangkan
ketegangan, tetapi justru sebaliknya organism sering kali berusaha meningkatkan
ketegangan dalam dirinya.
c.
Teori
Atribusi
Teori atribusi tidak melandaskan pemikirannya pada
determinan-determinan biologis melainkan psikologis dan lingkungan. Menurut
teori ini, bagaimana seseorang menafsirkan atau berusaha mengerti apa yang
melatarbelakangi peristiwa-peristiwa yang terjadi disekitarnya akan menentukan
perilakunya.
d.
Teori
Harapan
Victor E. Vroom, pencetus teori harapan, dan para pendukungnya
beranggapan bahwa motivasi merupakan produk kombinasi antara besarnya keinginan
seseorang untuk mendapatkan hadiah tertentu (valensi), besarnya
kemungkinan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diperlukan (harapan),
dan keyakinannya bahwa prestasinya tersebut akan menghasilkan hadiah yang ia
inginkan (Instrumentalitas). Teori harapan mempunyai banyak implikasi
praktis dan banyak digunakan dibidang manajemen organisasi.
e.
Aktualisasi
Diri
Carl Rogers dan Abraham H. Maslow adalah pencetus pandangan yang
bersifat kognitif-humanistik. Mereka menolak hubungan antara stimulus
(rangsang) dan respons yang bersifat mekanistik. Mereka beranggapan
bahwa manusia adalah makhluk rasional, oleh karena itu, setiap rangsang akan
mengalami proses kognitif sebelum terjadinya suatu respons.
Roger beranggapan bahwa perilaku manusia dikuasai oleh (yang
disebutnya) the actualizing tendency, yaitu suatu kecenderungan inheren
manusiayang mengembangkan kapasitasnya sedemikian rupa guna memelihara dan
mengembangkan diri. Motivasi yang timbul akibat kecenderungan ini meningkatkan
kemandirian dan mengembangkan kreativitas.
f.
Teori
Motif Berprestasi
Konsep motif berprestasi mula-mula dikemukakan oleh Henry Murray
dalam bukunya Explorations in Personality. Beliau membagi
kebutuhan-kebutuhan manusia ke dalam 17 kategori.
Diantaranya adalah kebutuhan untuk berprestasi dan kebutuhan
berafiliasi/berteman. Konsep-konsep ini dipakai untuk menggambarkan kepribadian
seseorang dalam rangka suatu diagnosa yang sifatnya klinis.
1)
Kebutuhan
berprestasi dari perilaku individu yang selalu mengarah pada suatu standar
keunggulan . N-ach, seperti juga kebutuhan-kebutuhan lain dalam teori
Mc. Clelland, merupakan hasil dari suatu proses belajar.
2)
Kedua
kebutuhan lain, yaitu n-power dan n-aff kurang banyak diteliti
disbanding n-ach. N-power terlihat dari perilaku individu yang selalu
berusaha menanamkan pengaruh atas orang lain demi reputasinya sendiri. N-aff
terlihat pada perilaku individu yang menyukai kumpul-kumpul bersama orang lain,
membina hubungan baik, dan menjalin hubungan-hubungan baru.
g.
Motivasi
Takut Berprestasi
Menurut Atkinson, terhadap dua tipe manusia yang perilakunya
mengarah pada prestasi. Kelompok yang pertama adalah orang-orang yang lebih
termotivasi untuk berprestasi daripada menghindari kegagalan. Kelompok kedua
adalah mereka yang lebih termotivasi oleh ketakutan akan gagal. Kelompok
pertama dan kedua mempunyai performance (prestasi) yang berbeda pada
tugas-tugas yang mempunyai derajat kesulitan yang bervariasi.
L.
SIKAP
a. Pengertian Sikap
Menurut Alex Sobur, Psikologi Umum (2003:361) Sikap merupakan salah satu pokok
bahasan yang penting dalam psikologi, khususnya psikologi sosial, para ahli
tidak selalu sepakat mengenai pengertian atau definisi. Ada beberapa pengertian
tentang sikap, yaitu :
1.
Sikap
adalah pengalaman tentang suatu objek atau persoalan. Dimana pengalaman sikap
bukan sekedar suasana hati yang disebabkan oleh stimulus dari luar. Suatu
persoalan atau objek dikatakan merupakan bagian dari pengalaman.
2.
Sikap
adalah kecenderungan bertindak, berpikir, berpersepsi, dan merasa dalam
menghadapi objek, ide, situasi, atau nilai. Sikap bukanlah perilaku, tetapi
lebih merupakan kecenderungan untuk berperilaku dengan cara tertentu terhadap
objek sikap.
3.
Sikap
timbul dari pengalaman, tidak dibawa sejak lahir, tetapi merupakan hasil
belajar.
Menurut Bimo Walgito, Psikologi Sosial (2003:127) sikap itu
merupakan organisasi pendapat, keyakinan seseorang mengenaiobjek atau situasi
yang relatif ajeg, yang disertai adanya perasaan tertentu, dan memberikan dasar
kepada orang tersebut untuk membuat respons atau berperilaku dalam cara yang
tertentu yang dipilahnya. Sikap juga merupakan pandangan atau perasaan, tetapi
sikap cenderung bertindak sesuai dengan sikap terhadap objek.
Menurut Gerungan, Psikologi Sosial (2004:160) attitude
(sikap) merupakan kesediaan beraksi terhadap suatu hal yang senantiasa
terarahkan kepada suatu hal, suatu objek. Jadi sikap itu terarahkan pada
benda-benda, orang-orang, tetapi juga peristiwa-peristiwa, lembaga-lembaga, dan
norma-norma.
b. Teori Pembentukan Sikap
Menurut Abu Ahmadi, Psikologi Sosial (2002:170) sikap timbul
karena ada stimulus. Terbentuknya suatu sikap itu banyak dipengaruhi perangsang
oleh lingkungan sosial dan kebudayaan. Sikap tumbuh dan berkembangan dalam
basis sosial yang tertentu. Di dalam perkembangannya sikap banyak dipengaruhi
oleh lingkungan, norma-norma atau group.
Hal ini akan mengakibatkan perbedaan sikap antara individu yang
satu dengan yang lain karena perbedaan pengaruh atau lingkungan yang diterima.
Sikap tidak akan berbentuk tanpa interaksi manusia, terhadap obyek tertentu
atau suatu obyek.
c. Persesuaian: Proses Perubahan Sikap
Pembentukan dan perubahan sikap tidak terjadi dengan sendirinya.
Sikap terbentuk dalam hubungannya dengan suatu objek, orang kelompok, lembaga,
nilai, melalui hubungan antara individu, hubungan di dalam kelompok, komunikasi
surat kabar, terdapat banyak kemungkinan yang mempengaruhi timbulnya sikap.
Faktor-faktor yang menyebabkan perubahan sikap, yaitu :
a)
Faktor
intern yaitu faktor yang terdapat dalam pribadi manusia itu sendiri. Faktor ini
berupa selectivity atau daya pilih seseorang untuk menerima dan mengolah
pengaruh- pengaruh yang datang dari luar;
b)
Faktor
ekstern yaitu faktor yang terdapat di luar pribadi manusia. Faktor ini berupa
interaksi sosial diluar kelompok.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Ahmadi,
Abu. 2003. Psikologi
Umum. Jakarta: PT Rineka Cipta.
__________. 2004. Psikologi
Belajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.
___________. 2002. Psikologi
Sosial. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Sobur,
Alex. 2009. Psikologi
Umum. Bandung: Pustaka Setia.
_________. 2003. Psikologi
Umum. Bandung: Pustaka Setia.
Fauzi, Ahmad. 1999. Psikologi
Umum. Bandung: Pustaka Setia.
Gerungan. 2004. Psikologi
Sosial. Bandung: PT Refika Aditama.
Hude,
M Darmis. 2006. Emosi.
Jakarta: Erlangga.
Rahmat, Jalaluddin. 2008. Psikologi komunikasi. Bandung:
rosda
Sarwono,
Sarlito Wiraman.
2002. Individu dan Teori-teori Psikologi Sosial. Jakarta: Balai Pustaka.
____________. 2000. Pengantar
Umum Psikologi. Jakarta: Bulan Bintang.
Walgito,
Bimo. 2003. Psikologi
Sosial. Yogyakarta: Andi.
